>

Total Tayangan Halaman

Selasa, 19 Juli 2011

Syafa'at








" Dan jagalah dirimu dari ( adzab ) hari ( kiamat yang pada hari itu ) seseorang tidak dapat membela orang lain , walaupun sedikitpun , dan ( begitu pula ) tidak di terima syafa'at dan tebusan padanya , dan tidaklah mereka akan di tolong " . ( QS : Al Baqarah 48 ) 





Satu topik bahasan yang menarik untuk di kaji hari ini adalah tentang syafa'at . Banyak umat Islam yang berharap harap cemas agar besok di hari kiamat dirinya akan mendapatkan syafa'at . Akan tetapi secara bersamaan ia malah melakukan satu amalan yang menyebabkan kekufuran atau kebid'ahan , yang mana hal itu di lakukannya hanya karena ia ingin mendapatkan syafa'at . Bagaimana Islam berbicara tentang syafa'at ?? Bagaimana pula syafa'at itu bila di lihat dengan memakai kaca mata Islam menurut pemahaman para salafus sholeh ?? . Temukan jawabannya di sini , semoga bermanfaat dan dapat menjadi bahan renungan . Amin


Definisi syafa'at secara mudahnya adalah : Satu bentuk karunia dari Allah Tabaroka Wata'ala buat orang orang yang beriman dan ber amal sholeh besok pada hari kiamat , yang mana seluruh manusia menggantungkan harapannya kepada Allah agar dirinya mendapatkan syafa'at .
Berangkat dari firman Allah Ta'ala
" Katakanlah , Hanya kepunyaan Allah syafa'at itu semuanya " . ( QS : Az Zumar 44 )
Dan juga firman Allah Ta'ala
" .....Tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin Nya " .... ( QS : Al Baqarah 255 )

Pada pengalan dari ayat , dari ayat kursy ( QS : Al Baqarah 255 ) menjelaskan tentang satu kedudukan yang tidak mungkin di lewati oleh seorang hamba Allah ( sampai Rosulullah Muhammad Saw  sekalipun ) . Satu titik antara ke Uluhiyahan Allah Tabaroka Wata'ala dengan seorang hamba Allah yang mengikhlaskan ibadahnya hanya kepada Nya . Mereka semua berhenti pada satu kedudukan sebagai hamba Allah dengan penuh ketundukan dan merendahkan dirinya di hadapan Allah Subhanahu Wata'ala , sedikitpun tidak berani mendahului Rabbnya dan juga sedikitpun tidak berani memberikan syafa'at ( satu pembelaan / pertolongan ) dari sisi Nya kecuali setelah ada izin dari Nya . Mereka tunduk atas izin Allah tersebut dan jika telah mendapat izin sekalipun ada batasan batasannya ( tidak bisa sekehendak hati ) .
Sekalipun Rosulullah Saw , beliau tidak berani mendahului Allah ( sebelum Allah Ta'ala mengizinkan beliau Saw ) apalagi orang orang yang kadar ke imanya sangat jauh dari beliau Saw .

Pembagian Syafa'at

Di dalam kitab Qurratu Al Uyun , syafa'at ada 2 macam .
1. Syafa'at yang di tiadakan Al Qur'an  yaitu bagi orang orang kafir atau orang orang yang mengingkari syareat Allah yang di bawa oleh Rosulullah Muhammad Saw . Pengingkaran itu bisa berupa penolakan ( secara halus maupun kasar ) atau memerangi orang orang yang tauhidnya lurus yang berusaha menegakkan syareat Allah di muka bumi sebagai sumber hukum semua manusia .
Di dalam Al Qur'an Allah Rabbul Alamin telah berfirman
" Dan jagalah dirimu dari ( adzab ) hari (  kiamat yang pada hari itu ) seseorang tidak dapat membela orang lain , walaupun sedikitpun , dan ( begitu pula ) tidak di terima syafa'at dan tebusan dari padanya , dan tidaklah mereka di akan tolong " . ( QS : Al Baqarah 48 )
" Sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafa'at " . ( QS : Al Baqarah 254 )

Harta yang berlimpah , anak keturunan yang banyak , pandai molobi sana sini , yang itu semua dapat ia peroleh dengan mudah di dunia dan menjadikannya sukses secara materi , akan tetapi hal itu sedikitpun tidak ada gunanya pada dirinya setelah ia mati yang saat itu ia di perlihatkan secara nyata adzabnya karena ketika hidupnya ia telah kafir . Hanya karena kekafirannya itu dan tidak mau beriman , maka Allah tidak menegakkan mizan di akherat . Dan karena kekafirannya itu seluruh amal amal kebaikan yang pernah ia perbuat ketika hidup di dunia tidak Allah perhitungkan dan tidak ada catatan amal kebaikan pada dirinya itu sedikitpun .
Suapnya , dan lobinya itu tidak berguna ( walaupun ia mempunyai dua gunung emas , untuk bisa lepas dari adzab Allah ( yang akan Allah berikan persekot ketika di alam kuburnya dan akan Allah bayar kontan adzabnya ketika hari kiamat ) dan syafa'at tidak berlaku pada dirinya ( walaupun keluarga dekatnya ada yang bisa memberikan syafa'at dalam artian ada yang mati syahid yang dengan mati syahid itu bisa memberikan syafa'at 70 golongan dari keluarganya ) .
Itulah bentuk kengerian tersendiri yang Allah gambarkan dalam QS : Al Baqarah 48 dan 254 secara jelas .

Sedangkan mengenai orang orang yang mengaku beriman , akan tetapi ia malah mengamalkan satu kebid'ahan yang menyebakan syirik akbar , maka Allah Azza Wajalla dengan tegas menyangkal semua klaim kalim dusta mereka .
Berangkat dari firman Allah :
" Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafa'at dari orang orang yang memberikan syafa'at " . ( QS : Al Mudatsir 48)
Dan firman Allah :
" Dan mereka menyembah selain dari pada Allah apa yang tdk dapat mendatangkan kepada mereka dan tidak pula kemanfaatan dan mereka berkata : " Mereka itu pemberi syafa'at kepada kami dari sisi Allah ", Katakanlah ; " Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak di ketahui Nya di langit dan tidak ( pula ) di bumi " . ( QS : Yunus 18 )
Dan juga firman Allah Ta'ala :
" Dan orang orang yang mengambil pelindung selain Allah ( berkata ) : " Kami tidak menyembah mereka , melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat dekatnya " . Sesunguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya . Sesunguhnya Allah tidak menunjuki orang orang yang pendusta dan sangat ingkar " . ( QS : AZ Zumar 3 )

Klaim klaim Dusta

Pada penggalan ayat tersebut juga merupakan bantahan kepada orang orang musyrik , bahwa mereka berdo'a tas wali wali Allah ( yang mereka anggap sebagai wali Allah ) yang telah meninggal dapat memberikannya syafa'at kepada dirinya dari sisi Allah Ta'ala . Mereka mengira bahwa wali wali Allah yang telah meninggal itu ridha dan memerintahkan mereka untuk berbuat seperti itu , sehingga mereka berharap besar bahwa wali wali Alah yang telah meninggal itu dapat menjadi penolong pada dirinya dengan melakukan perbuatan seperti itu .
Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya , orang orang musyrik itu telah mengusahakan satu sebab ( berdo'a kepada wali wali Allah yang telah meninggal untuk mendapat syafa'at bagi dirinya kelak ) yang justru dengan sebab itu dapat menjadi penghalang izin Allah atas dirinya untuk mendapat syafa'at . Atau dengan bahasa yang lain , seseorang yang sangat butuh akan satu pertolongan , maka ia melakukan satu amalan , akan tetapi dengan amalan tersebut ia malah sama sekali tidak mendapatkan pertolongan yang sangat ia butuhkan itu .

Karena sesunguhnya orang yang telah meninggal , siapapun orangnya sampai Rosulullah sekalipun telah terputus seluruh amalnya , ia tidak dapat memberikan madhorot kepada dirinya sendiri , lebih lebih orang lain yang meminta pertolongan pada dirinya ( malah lebih tidak bisa lagi ) untuk memintakan syafa'at kepada Allah . Dan hal tersebut sebagai sumber kebohongan dan kebodohan tentang pemberi syafa'at dan sumber syafa'at . Karena tidak ada yang dapat memberikan syafa'at dari sisi allah kecuali dengan izin Allah , dan juga Allah tidak menjadikan permohonan pertolongan dan do'a ( untuk mendapatkan syafa'at ) kepada yang telah meningal itu sebagai sebab di berikannya izin Allah tersebut .

Sedangkan ayat ayat yang senada dengan penggalan ayat kursy diatas sangat banyak QS: Thahaa 109 , QS :  An Najm 26 , QS : Yunus 3 , QS :  Saba' 23 , QS : Al Anbiyaa' 28 .
Sedangkan Ibnul Qayyim di dalam mengupas ayat ayat tersebut mengatakan : " Allah Tabaroka Wata'ala telah memutuskan semua faktor faktor yang di jadikan orang orang musyrik untuk bertopang . Orang orang orang musyrik menganggap sesembahanya itu bisa memberikan manfaat kepada dirinya , padahal tidak ada manfaat sedikitpun kecuali kecuali dari yang memiliki satu dari empat hal , yaitu Raja yang di harapkan oleh hambaya . Jika bukan Raja berarti sekutu sang Raja . Jika bukan sekutu berarti penolong atau pembantunya . Dan jika bukan penolong dan bukan pula pembantunya   berarti pemberi syafa'at darinya .
Allah Azza Wajalla menyangkal ke empat hal itu secara urut , dirinci dari atas kebawah . Allah menyangkal kerajaan , persekutuan , pertolongan dan pemberian sfyafa'at yang di mintakan oleh orang orang musyrik . Dan Allah menetapkan bahwa tidak ada bagian sedikitpun bagi orang orang musyrik terhadap syafa'at , kecuali orang yang mendapatkan syafa'at dengan izin Allah . Dan cukuplah dengan ayat ayat ini menjadi cahaya dan petunjuk untuk memurnikan tauhid kepada Allah , dan cukuplah dengan ayat ayat ini menjadi penolak dasar dasar kemusyrikan dan unsur unsurnya bagi yang memahaminya . Mereka ( orang orang musyrik itu ) mengira hal itu terjadi pada kaum kaum sebelum mereka , mereka hanyalah mewarisi pendahulu mereka ( dalam hal kemusyrikan ) dalam hal do'a dan permohonan syafa'at , dan juga mereka mengira ( orang orang musyrik hari ini ) bahwa mereka tidak akan mendapatkan warisan dosa dan siksa dari berbuatan dosa para pendahulu mereka .
Kemudian Ibnul Qayyim melanjutkan : " Diantara macam macamnya , yakni macam macam syirik ialah meminta hajat kepada orang orang yang sudah mati dan memohon pertolongan kepada mereka ( yang dianggap wali wali Allah yang telah meninggal itu ) . Dan inilah sumber kesyirikan di dunia Islam hari ini " .

Jika zaman Ibnul Qayyyim saja beliau mengatakan sudah sedemikian parah kesyirikannya , maka apalagi hari ini ( di zaman yang katanya modern ) malah jauh lebih parah lagi dari zaman Ibnul Qayyim dahulu .
 Dari tiga ayat diatas ( Al Mudatsir 48 , Az Zumar 3 dan Yunus 18 ) menjelaskan , bahwa karena kebid'ahan yg telah menjurus kepada syirik akbar itu ( walaupun ia mengamalkan sholat , puasa dan amalan Islam yang lain ) menjadikannya ia tertolak untuk mendapatkan syafa'at dari orang orang yang berhak memberikan syafa'at ( baik itu dari Rosulullah sendiri maupun selain beliau ) . Karena yang mereka lakukan itu berarti ia telah menjadikan Allah Azza Wajalla sebagai sekutu yang di sukai , di harapkan , di tawakali dan di cintainya sebagaimana ia mecintai Allah Ta'ala . Oleh karena itulah Ibnul Qayyim menjelaskan tentang kekeliruan fatal mereka yang telah berbuat syirik itu .

2.  Syafa'at yang di tetapkan Al Qur'an , yaitu di khususkan untuk orang orang yang ikhlas , baik itu ikhlas dalam berdo'a maupun ikhlas dalam peribadatannya ). 

Do'a merupakan unsur terpenting dalam beribadah , karena Rosulullah Saw pernah bersabda : " Do'a adalah otaknya ibadah " . Orang yang benar dalam beribadahnya tentu betul pula ia dalam berdo'a , sedangkan orang salah dalam beribadah tentunya salah pula ia dalam berdo'a , sehingga beribadah dan berdo'a sangat terkait erat dan tidak bisa di pisahkan ( ibarat dua sisi mata uang ) .
Oleh karena itu Al Qur'an mengkhususkan orang orang yang berhak mendapatkan syafa'at itu hanyalah orang orang yang benar dalam beribadah dan benar pula dalam ia berdo'a ( hanya kepada Allah saja , tidak yang lain ) .
Allah Tabaroka Wata'ala berfirman :
" Dan aku akan menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu seru selain Allah , dan aku akan berdo'a kepada Rabbku ,mudah mudahan aku tidak kecewa dengan berdo'a kepada Rabbku . Maka ketika Ibrahim telah menjauhkan diri dari mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah , Kami anugrahkan kepadanya Ishaq dan Ya'qub . Dan masing masingnya Kami angkat menjadi Nabi " . ( QS : Maryam 48 - 49 )

Pada ayat tersebut menjelaskan tentang milah Ibrahim , bapak aqidah Umat Islam yaitu syarat di di kabulkannya sebuah do'a ( atau ingin mendapatkan syafa'at ) manakala aqidahnya lurus dan ibadahnya benar ( yang pada ayat tersebut aqidahnya benar dengan menjauhkan diri dari orang orang musyrik , dan ibadahnya benar dengan hanya beribadah kepada Allah saja ) . Sehingga benarlah apa yang di sabdakan  Rosulullah Saw
Abu Hurairah r.a telah bertanya kepada beliau , " Siapakah orang yang beruntung dengan syafa'at engkau ? " , Beliau menjawab " Ialah orang yang mengucapkan Lailaha Ilallah dengan ikhlas dari dalam hatinya " . ( HR . Bukhari dan Nasa'i )
Dalam hadits yang lain beliau juga bersabda :
" Syafa'atku bagi yang mengucap[kan Lai ilaha Illallah , dengan ikhlas yang mana hatinya membenarkan lisannya dan lisannya membenarkan hatinya " . ( HR . Ahmad di shahihkan Ibnu Hibban )

Sedangkan syafa'at yang di tetapkan Al Qur'an ini Allah Ta'ala mengikatnya dengan 2 syarat

1. Adanya izin Allah kepada orang orang yang dapat memberikan syafa'at . Termasuk Rosulullah Saw sendiri sekalipun , jika izin Allah belum keluadr maka beliau tidak berani sedikitpun untuk memberikan syafa'atnya kepada manusia atau umat beliau .
2. Allah Ridha kepada orang yang akan di beri syafa'at .
Sebagaimana firman Allah
" Mereka tidak memberi syafa'at melainkan kepada orang orang yang dirihdio Allah " . ( QS : Al Anbiyaa' 28 )
Dari ayat tersebut menjelaskan bahwa mereka memberikan syafa'atnya tidak dengan sekehendaknya , akan tetapi mengharuskan Allah Ta'ala telah ridho atas orang yang akan di berikan syafa'at itu . Sedangkan ridha Allah akan di raihnya ketika orang tersebut di dunianya benar dan lurus aqidahnya , walaupun ia berdosa .

Sebagai gambaran mudahnya adalah : Syafa'at itu sebagai penambal pakaian yang robek atau berlubang . Sedangkan sesuatu yang akan di tambal pastilah ada kainnya terlebih dulu . Kalau kainnya saja ia tidak punya bagaimana ia ingin mendapat tambalan . Seseorang yang telah mendapatkan kain , berarti ia telah memperoleh syarat mendapatkan syafa'at yaitu tauhidnya tidak tercampuri noda syirik akbar , benar ibadahnyua , dan benar pula ia dalam berdo'a .
Sedangkan orang yang tidak mendapatkan kain , maka berarti ia tidak memenuhi syarat mendapatkan syafa'at boleh jadi karena ia kafir , atau memerangi orang orang yang tauhidnya lurus , atau kalaupun ia beriman dan tidak memusuhi ahlul tauhid bisa jadi ia terjebak dalam peribadat yang tidak ikhlas karena Allah saja atau ia dalam beribadah ber sikap ghuluw ( berlebih lebihan ) yang malah hal itu ia terseret kepada kebid'ahan yang menjurus kepada syirik akbar , yang mana hal itu tidak disadarinya karena kebodohannya terhadap dienul Islam itu sendiri .

Syafa'at Rosulullah

Diantara para Nabi dan Rosul , hanya Rosulullah Muhammad saw saja yang Allah berikan satu kedudukan tertinggi di Sisi Nya mengenai Syafa'at . 
Ibnul Qayyim menerangkan bahwa Rosulullah Muhammad Saw mempunyai 6 macam antara lain :
1. Syafa'at Kubra yang mana syafa'at ini para Rosul Ulul Azmi menyatakan tidak memilikinya .
Imam Al Bukhari meriwayatkan di dalam hadist yang panjang di jelaskan , bahwa pada saat seluruh manusia di kumpulkan di paang maghsyar ( menunggu untuk di lakukan penghisapan amal dan beratnya keadaan pada saat itu ) ,maka seluruh manusia mendatangi para Rosul Ulul Azmi ( kedudukan tertinggi bagi hamba Allah setingkat lebih tinggi dari para Nabi dan setingkat lebih rendah dari kedudukan Rosulullah Muhammad Saw ) agar Allah mempercepat hari penghisapannya dan agar Allah meredakan goncangan dahsyat yang terjadi pada saat itu . Hingga mereka semua datang kepada Rosulullah Muhammad Saw ( karena para Rosul Ulul Azmi tersebut tidak berani memenuhi permintaan seluruh manusia kepada Allah , karena mereka para Rosul Ulul Azmi tau kesalahan yang pernah di perbuatnya kepada Allah ) .

Setelah waktu yang di tentukan oleh Allah Azza Wajalla , maka Rosulullah datang pada hari kiamat ( di padang maghsyar ) di hadapan Allah Rabbul 'Alamin sambil bersujud kepada Allah dengan memanjatkan segala do'a pujian kepada Allah ( yang telah Allah Ta'ala ajarkan kepada beliau ) dan tidak ada yang berani menyertai beliau pada saat itu . Beliau terus bersujud kepada Allah Ta'ala sampai batas yang telah Allah tentukan . Pada saat itu Rosulullah Muhammad Saw tidak datang kepada Allah dan langsung memberikan syafaat kepada manusia ( itulah bentuk ketawadhu'an beliau kepada Rabbul 'Alamin) . Setelah beliau bersujud dengan watu yang telah Allah tentukan , barulah di katakan kepada beliau : " Angkatlah kepalamu , katakanlah niscaya akan di dengar yang kamu katakan , mintalah niscaya akan di berikan apa yang kamu minta , dan berilah syafa'at niscaya akan di terima syafa'at yang kamu berikan itu " .
Rosulullah Muhammad Saw memohon kepada Allah Azza Wajalla agar mempercepat hari perhitungan amal atas seluruh manusia pada saat di padang maghsyar , sehingga Allah Ta'ala pun meredakan apa yang terjadi pada saat itu . Dan itulah syafa'at Rosulullah Saw yang di sebut dengan syafa'atul Udhma / syafa'at kubra .

2. Syafa'at beliau untu para ahli jannah agar memasuki jannah .
Di sana terdiri dari para Rosul dan para Nabi , para siddiqin , para syuhada' , hadits yang menerangkan bahwa kelak akan ada 70 ribu dari umat Muhammad Saw yang masuk jannah tanpa hisab . Dan itu juga merupakan satu kenikmatan tersendiri dapat langsung masuk jannah tanpa hisab .

3. Syafa'at beliau untuk kaum yang bermaksiat diantara umat beliau yang terancam masuk neraka karena dosa dosa mereka , lalu beliau memintakan syafa'at kepada Allah Ta'ala bagi mereka agar tidak masuk neraka . Ini juga termasuk nikmat tersendiri dapat terhindar dari api neraka , setingkat lebih rendah dari nomoe 2 .

4. Syafa'at beliau untuk orang orang yang berbuat maksiat dari umat beliau yang ahli tauhid yang telah masuk neraka karena dosa dosa mereka ( yang satu riwayat mengatakan , hal itu mereka masuk neraka  untuk membersihkan dosa dosa mereka ketika di dunia ) . Dan mereka akan masuk Jannah setelah dosa dosa mereka bersih ( yang juga satu riwayat mengatakan , bahwa orang terakhir yang masuk jannah di berikan jannah seluas bumi dan langit ) .

5. Syafa'at beliau untuk suatu kaum dari ahlul jannah untuk menambah nikmat mereka di samping nikmat yang telah mereka terima pada saat itu dan agar meninggikan derajat mereka di jannah ( satu riwayat mengatakan , bahwa di jannah itu terdapat beberapa tingkatan ) .

6. Syafa'at beliau untuk sebagian anggota keluarganya yang termasuk ahli neraka sehingga di ringankan adzabnya , dan hal itu di khususkan untuk paman beliau Abu Thalib ( dalam satu riwayat juga mengatakan , adzab yang di terima Abu Thalib adalah seringan ringan adzab di neraka , itupun di pakaikan terompah dari neraka yang mana otaknya langsung mendidih ) .
Dan itulah 6 syafa'at yang di miliki oleh Rosulullah Muhammad Saw besok di hari kiamat sebagaimana yang di terangkan oleh Ibnul qayyim rahimahullah .

Jadi beruntunglah kita dapat menjadi bagian dari umat Rosulullah Muhammad Saw , walaupun umat Islam terakhir ( dari deretan umat Islam para Nabi dan Rosul ) akan tetapi memiliki satu kelebihan yaitu umat yang pertama kali akan di hisab oleh Allah , umat yang dapat menikmati telaga al Kautsar , umat yang pertama kali meniti shirat yang di bentangkan diatas punggung neraka jahannam , umat yang mendapat syafa'atnya Rosulullah ( yang mana syafa'at yang beliau miliki lebih banyak dari syaf'at yang dimilki oleh para Nabi dan Rosul yang lain ) , dan umat yang pertama kali masuk jannah .

Kesimpulan

1. Syafa'at seluruhnya hanyalah milik Allah Ta'ala semata
2. Rosulullah Muhammad Saw sekalipun tidak berani lancang langsung memberikan syafa'atnya kepada umatnya sebelum Allah Azza Wajalla memberikan ijin kepada beliau , begitu pula orang yang dapat memberikan syafa'at selain beliau besok di akherat .
3. Salah satu kemuliaan yang Allah berikan kepada Rosululah Saw , yang mana kemulyaan tersebut tidak di miliki oleh para Rosul Ulul Azmi yaitu Rosulullah Muhammad Saw mempunyai syafa'atul Udhma ( memohon kepada Allah Ta'ala untuk seluruh umat manusia dari manusia pertama hingga terakhir agar mempercepat hari penghisapan manusia dan meredakan goncangan yang sangat dahsyat di padang maghsyar ) .
4. Selain Rosulullah ada diantara umat beliau yang Allah berikan satu kemulyaan dapat memberikan syafa'at kepada manusia . Itupun setelah Allah mengijinkan kepada mereka untuk memberikan syafa'at , jika ijin Allah belum keluar , maka merekapun tidak mampu memberikan syafa'atnya untuk manusia .
5. Orang yang bisa menerima syafa'at dari orang orang yang dapat memberikan syafa'at haruslah ia memenuhi apa yang Allah syaratkan yaitu Allah Ta'ala Ridho atas dirinya atau Allah mengijinkan dirinya mendapatkan syafa'at . Jika Allah tidak mengijinkan ia mendapatkan syafa'at , maka dirinyapun tidak bisa mendapatkan syafa'at yang diharapkannya itu dan juga orang yang berhak memberikan syafa'at tidak akan bisa memberikan syafa'at pada dirinya , walaupun ia termasuk keluarga dekat dari orang yang bisa memberikan syafa'at .
6. Ijin Allah akan bisa diraih untuk orang orang yang ingin mendapatkan syafa'at ( baik itu syafa'atnya Rosulullah Muhammad Saw atau selain Rosulullah Saw ) manakala dirinya itu telah murni tauhidnya dan benar pula ia dalam setiap do'a yang ia panjatkan ( hanya kepada Allah saja , tidak kepada selain Allah ) . Karena syafa'at itu sebuah do'a permohonan , sedangkan do'a permohonan itu terkait erat dengan ibadah dan tauhid . Jika tauhid dan ibadahnya saja sudah salah dan rusak , maka secara otomatis do'a permohonannyapun akan rusak pula . Sebagaimana QS : Al fatehah ( yang sering kita baca ) lebih mendahulukan iyyakana'budu ( hanya kepada Mu lah kami menyembah atau beribadah ) daripada waiyyaka nasta'in ( dan hanya kepada Mu lah kami mohon pertolongan ) , maka syarat mendapatkan nasta'in haruslah na'budunya betul dulu ( menurut konteks ayat tersebut ) .
7. Akan menjadi sia sia amalan seseorang yang ia berharap ingin mendapatkan syafa'atnya Rosulullah Muhammad Saw , dengan banyak banyak membaca shalawat atas beliau , akan tetapi di saat yang bersamaan atau di lain kesempatan ia malah melakukan kebid'ahan kebid'ahan ( bahkan kebid'ahan yang dilakukannya itu sudah menjurus pada syirik akbar ) . Hal tersebut dapat dianalogikan , jika kita bekerja pada satu instansi atau perusahaan yang mana di perusahaan atau instansi tersebut tentunya ada direktur utamanya dan ada peraturan peraturan yang harus di taati oleh seluruh orang yang ada di kantor itu .
Kita setiap saat hadir absensi dikantor itu dan setiap saat jika ada kesempatan kita banyak memuji muji sang di rektur utamanya itu . Akan tetapi di saat yang bersamaan atau di lain kesempatan kitalah orang yang nomor satu merubah seluruh tata aturan yang telah berlaku di perusahaan itu ( baik itu dengan menambah nambah atau mengurangi peraturan yang ada di perusahaan itu ) yang mana kita merasa percaya diri bahwa yang kita lakukan selama itu sudah benar . Lalu apa jadinya jika sang di rektur utamanya itu tau tingkah laku kita selama ini .
Oleh karena itu , kebid'ahan sangatlah besar bahayanya dari pada kemaksiatan . Orang yang melakukan satu kemaksiatan ia tentu sadar dan tau apa yang di lakukannya itu adalah satu kemaksiatan dan itu dosa dan ia pun mengakuinya , akan tetapi orang yang melakukan kebid'ahan sudah mengacak acak syareat Allah yang mana secara tidak langsung memfitnah Rosulullah berbuat khianat dengan menyembunyikan syareat Islam ( dengan ia menambah nambah sendiri amalan amalan yang ia lakukan yang mana hal tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rosulullah Saw maupun para sahabat beliau rodhiyallahu anhum ) yang ironisnya ia merasa benar amalan yang telah ia lakukan selama ini .

Catatan : 

Jika dalam setiap artikel kami terdapat kata kata yang menukik ( kalimat kekafiran , kebid'ahan , kemunafikan atau kefasikan dan bahkan bentuk bentuk kedholiman ) bukan berarti kami menunjuk hidung seseorang , dan hal itu bukanlah kapasitas saya untuk menunjuk hidung seseorang , akan tetapi hal itu menunjukkan contoh contoh sederhana yang terjadi di masyarakat Islam hari ini . Dengan begitu harapan saya marilah kita bersama sama untuk menghindari jika diri kita terdapat salah satu sifat dari yang saya contohkan itu . Harapan saya juga hanyalah mengajak untuk bersama sama mengikuti dalil ( baik itu dari Al Qur'an , As Sunah , atau Ijma' Ulama' Islam )

Dan itulah penjelasan singkat tentang syafa'at yang di nukil dari kitab Fathul Majid dan beberapa sumber yang dapat di percaya . Semoga bermanfaat dan dapat menjadikan bahan renungan kita bersama . Amin

Wallahu 'Alam Bishowwab

Selasa, 28 Juni 2011

DZIKIR





Berdzikir adalah satu perintah Allah Azza Wajalla buat orang orang beriman . Perintah dzikir kepada Allah itu tidak hanya berupa amalan lisan saja , akan tetapi juga amalan hati dan amalan anggota badan yang lainnya selain lisan kita .



Lisan melafalkan Alhamdulilah , Subhanallah , Allahu Akbar , dan lain lain yang telah diajarkan oleh Rosulullah Muhammad Saw juga bentuk dari dzikir . Sedangkan bentuk dari dzikir yang paling utama di sisi Allah adalah berusaha dengan sungguh sungguh seluruh syareat Islam dalam kehidupan sehari hari kita . Akan tetapi yang menjadi pembahasan kali ini terfokus pada dzikir lisan . Banyak dari kalangan umat Islam sendiri yang berlebih lebihan dalam masalah dzikir lesan , sehingga yang terjadi sedikit demi sedikit menyimpang dari rel syareat , yang mana hal itu banyak yang tidak menyadarinya . Semoga lewat tulisan ini dapat sedikit meluruskan pemahaman , yang semakin hari semakin menyimpang berkenaan dengan dzikir lisan .


TAR`IF  DZIKIR 
            a.   Dzikir secara bahasa berasal dari kata : (-ذكر -يذكر-ذكرا )
artinya : menyebut,mengucapkan mengagungkan,mengingat-ingat.(Almunjid :236 )
     b.  Secara istilah :
Sayyid syabiq berkata:”Dzikir ialah apa yang dilakukan oleh hati dan lisan berupa tasbih atau mensucikan Allah Ta'ala ,memuji dan menyanjung Nya,menyebut-nyebut sifat- sifat dan kebesaran,keagunggan Nya,
serta sifa-t sifat indah yang dimilikinya”. (Fiqh Sunnah 4/213 ).


II.  Anjuran untuk berdzikir :

           a.   Dari Al-Qur’an : Allah Tabaroka Wa Ta'ala  berfirman :

فاذكروني أذكركم واشكروا لي ولا تكفرون

”Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu dan bersyukurlah pada-Ku dan jangan ingkar terhadap nikmat-nikmat-Ku”. ( Al Baqoroh :153 ).


وذكر ربك  في نفسك تضرعا وخفية ودون الجهر من القول بالغدو والاصال ولا تكن من الغافلين

”  Dan sebutlah nama Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (pada siksanya) tidak mengeraskan suara dipagi dan di sore hari, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.
{. Al  A’raaf :205 }

 b.Dari sunnah :
مثل الذي يذكر ربه والذي لا يذكر ربه مثل الحي والميت

” Perumpamaan orang-orang yang menyebut nama Rabb nya dengan orang yang tidak menyebut nama-Nya ,laksana orang hidup dan orang mati.” {HR. Bukhori fathul bari:11/208 }

أن رجلا قال يا رسول الله ان الله شرائع الإسلام قدكثرت علي فأخبربشيء اتثبت به قال لايزل  لسانك رطبا من ذكر الله
sesungguhnya seorang laki-laki berkata :”Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sesuatu buat pegangan ,” Beliau bersabda :”Tidak hentinya lidahmu basah dari dzikir kepada Allah . (HR  At Tirmudzi 5/458,
Ibnu majah 2/317 ).

Anjuran dzikir pada QS: Al Baqarah 153 , QS: Al A'raf 205 dan dua hadits tersebut adalah bertujuan untuk mengingatkan kita agar untuk apa kita hidup di dunia ini , mengingatkan kita kembali siapa diri kita dan bagaimana posisi kita di hadapan Allah Azza Wajalla . Tidak seperti para tareqat dan para pengikut tasawuf , yang mana mereka berdzikir untuk mencapai satu kedudukan makrifat , terus melafadkan satu lafad tertentu hingga berada di bawah alam sadarnya ( tidak mengetahui dengan pasti sudah berapa banyak lafadz yang di ucapkannya itu ) , sudah begitu di perparah lagi diiringi dengan nyanyian dan alat musik tertentu ( duf ) . Sehingga kerusakannya semakin menjadi jadi , parahnya hal itu dianggap sebagai satu sunah ( mereka menganggap hal itu berdzikir ) .



III . LARANGAN DZIKIR SECARA BERSAMA-SAMA


أََخْبَرَنَا اْلحَكَمُ بْنُ المُبَارَكِ أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ يَحْيَ قَالَ سَمِعْتُ أَبِيْ يُحَدِّثُ عن أبيه قال كنا نجلس علي باب عبد الله  بن مسعود قبل الصلاة الغداة فإذا خرج مشينا معه إلي المسجد فجاعنا أبو موسي الأشعري فقال أخرج إليكم أبو عبد الرحمن بعد قلنا لا فجلس معنا حتي خرج فلما  خرج قمنا إليه جميعا فقل له أبو موسي يا أبا عبد الرحمن إني رأيت في المسجد انفا أمرا أنكرته ولم أر والحمد لله إلا خيرا قال فما هو فقال إن عشت فستراه  قال رأيت في المسجد قوما حلقا جلوسا ينتظرون الصلاة في كل حلقة رجل وفي  أيديهم حصي فيقول كبروا مائة فيكبرون مائة فيقولوا هللوا مائة فيهللون مائة ويقول سبحوا مائة فيسبحون مائة قال  فماذا قلت لهم قال ما قلت لهم شيئا انتظار رأيك وانتنظر أمرك قال أفلا أمر تهم أن يعدوا سيئا تهم وضمنت لهم ألا يضيع من حسناتهم ثم مضي ومضينا معه حتي أتي حلقة من تلك الحلق فوقف عليهم فقال ما هذا الذي أراكم تصنعون قالوا يا أبا عبد الرحمن حصي نعد به التكبير والتهليل والتسبيح قال فعدوا سيئاتكم  فأنا ضامن أن لا يضيع من حسناتكم شيئ ويحكم يا أمة محمد ما أسرع هلكتهم هؤلاء صحابة نبيكم صلي الله عليه وسلم متافرون وهذه ثيابه تبل وانيته لم تكسر والذي نفسي بيده إنكم لعلي ملة هي أهدي من ملة محمد أو مفتتحو باب ضلالة قالو والله يا أبا عبد الرحمن ما أردنا إلا الخير قال وكم من مريد للخير لن يصيبه إن رسو ل الله صلي الله عليه وسلم حدثنا أن قوما يقرون القران  لايجاوز تراقيهم

  Telah mengkabarkan kepada kami Al-Hakam bin mubarrak,telah         mendengar: aku:” menceritakan   kepada kami Umar bin Yahya ia berkata “ayahku mengisahkan dari ayahnya ia berkata  :” kami duduk didepan pintu rumah Ibni Mas`ud sebelum shalat shubuh,apabila beliau keluar kami  berjalan bersamanya menuju masjid,(ketika kami sedang menanti beliau ) datanglah Abu Musa al asyar`I seraya bertanya “apakah Abu Abdurrahman telah keluar ? belum jawab kami,maka beliaupun duduk bersama kami menunggu sampai Ibnu Mas`ud keluar ketika beliau keluar kami semua berdiri ,lalu Abu Musa bertanya Hai Abu  Abdurrahman ! sungguh tadi dimasjid  aku melihat suaktu perkara yang aku ingkari,namun secara sekilas  nampaknya hal itu baik .apaitu ? tanya Ibnu mas`ud , ia Abu Musa menjawab  “sekiranya engkau dikarunia umur panjang engkau akan melihatnya .dimasjid aku melihat sekelompok orang duduk-duduk membentuk beberapa halaqah,mereka sedang menunggu shalat .setiap kelompok tersebut dipimpin oleh seorang  sedang tangan mereka memegang batu kerikil.pimpinan  jamaah tersebut berkata kepada jamaahnya :bertakbirlah seratus kali ! maka mereka bertakbir seratus kali.lalu ia berkata lagi : bertahlilah seratus kali! maka merekapun bertahlil seratus kali.maka ia berkata lagi : ”bertasbilah seratus kali! Maka mereka bertasbih seratus kali.Ibnu Masud bertanya kepada kepada Abu Musa :”lalu apa yang engkau katakan kepada mereka ?aku tidak berkomentar apa-apa menunggu pendapat dan perintah darimu ,”jawab Abu Musa “.tidakkah engkau perintahkan mereka untuk menghitung dosa-dosa dan engkau jamin bahwa perbuatan baik mereka tak akan sirna sedikitpun ?  ” kata Ibnu Masud.maka berangkatlah beliau Ibnu masud dan kamipun memgikutinya hingga beliau sampai kepada salah satu halaqah tersebut,lalu beliau memberhentikan mereka seraya berkata “Hitunglah dosa-dosa kalian maka aku menjamin bahwa amalan baik kalian tidak akan sia-sia.celakalah kalian wahai umat Muhammmad ,alangkah cepatnya kalian menuju kebinasaan ,padahal para  sahabat Nabi kalian    masih banyak,dan bejana-bejana mereka belum pecah.Demi jiwaku yang berada ditanganya ! kalian berada diatas Adien yang lebih baik dari adien Nabi Muhammad atau kalian pembuka pintu kesesatan ? mereka menjawab :”Demi Allah hai Abu Abdurrahman ! kami tidak menghendaki kecuali kebaikan :.maka beliau mengatakan “berapa banyak orang yang menghendaki kebaikan tetapi ia tidak mendapatkan (karena ia mengamalkan suatu amalan yang tidak dituntunkan oleh Allah dan Rasul-nya ).
 (HR Ad Darimi dalam sunanya,kitab al muqadimah ,hadist:204 ).

              Mahmud Salma  berkata :,Bukan termasuk perbuatan sunnah apabila seseorang duduk setelah shalat untuk membaca dzikir -dzikir ataupun doa doa yang matsur ( yang bersumber dari hadist shahih ) maupun yang tidak matsur dengan suara yang keras dan ada sebagian lagi yang menambahkan sholawat setelah selesai berdo'a dengan suara keras dan berjama'ah .apalagi kalau bacaan semacam ini dikerjakan secara kolektif  (bersama sama ),seperti yang telah terjadi dibeberapa daerah,namun sayangnya tradisi yang berlaku ini malah dianggap tidak benar jika tidak dikerjakan,bahkan orang yang melanggarnya malah dianggap sebagai orang yang melanggar syiar adin, padahal tradisi semacam ini harusnya ditinggalkan,karena tidak diajarkan oleh Rasullah Saw .     

        Muhammad Abdussalam Asy Syakiri berkata :”Membaca istighfar secara bersama-sama oleh para jama’ah setelah salam sholat merupakan perbuatan bid’ah, dan sunnahnya istighfar dilakukan sendiri-sendiri.begitu juga  dengan lafadz“yaa arhama rohimin” ,yang dibaca secara bersama sama juga termasuk bidah . (sunan walmubtadiat :60 )                                                                                      

Asy Syatibi berkata Rasulullah Saw   tidak pernah mengeraskan suaranya untuk membaca do’a maupun dzikir setelah selesai sholat kecuali untuk tujuan mengajari para sahabatnya sebab jika mengeraskan bacaannya atau suaranya terus menerus pasti akan dianggap sebagai sunnah dan ulama’pasti akan akan menganngap sunnah nabi dan selayaknya dicontoh”.
 (Al I`tisham 1/351 )

Imam Nawawi mengatakan :“…hendaklah imam dan ma’mum tidak mengeraskan suaranya kecuali bila tujuannya untuk mengajari orang lain .”
(Fathul bari”11/326 )

Ibnu Hajar berkata :”Disebut dalam  kitab “Al Atabiyah”sebuah riwayat dari Malik bahwa perbuatan tersebut (dzikir secara bersama-
sama ) dianggap bid’ah.” (Fathul Bari :11/326 ).

Asy Syatibi  mengatakan :”Telah disimpulkan bahwa selalu membaca do’a secara bersama-sama bukan termasuk perbuatan Rasulullah saw dan juga bukan termasuk perkataan dan taqrirnya”.
(Al I`tisham :1/352 )


III.KESIMPULAN

            Bahwa dzikir secara bersama-sama setelah melaksanakan sholat adalah perkara yang bid’ah, tetapi bila tujuannya untuk mengajari orang lain sesekali saja maka hal itu diperbolehkan tetapi tidak dilakukan setiap hari.


  • MASALAH MELAFADZKAN NIAT
            Penyebab penyakit was-was tidak lain adalah niat  yang berada didalam hati orang yang was was,namun dia meyakini bahwa niat belum ada adalah hatiya,dengan demikian  dia menghendaki niat itu ada dalam hati dengann cara mengucapkan dengan lisan ,hal ini sama sekali tidak ada gunanya.

  * Betulkah lafadz  niat (ushalli....) dalam shalat merupakan sunnah ?

            Al Imam An Nawawi mengataka“Abu Abdillah Al Zubairi yang termasuk ulama madzhab syafe`I ,beliau telah keliru ketika menyangka bahwa imam Syafe`itelah mewajibkan untuk melafadzkan niat.sebab kekeliruanya itu ialah kurang bisanya menangkap dan memahami perkataan  Imam Syafe`I dengan benar ,berikit ini adalah redaksi yang diutarakan imam Syafe`I “jika seorang berniat menunaikan ibadah haji atau umroh dianggap cukup sekalipun tidak dilafadzkan,tidak seperti shalat ,tidak dianggap sah kecuali dengan " النطق "an nuthqi. Az Zubairi mengartikanya dengan melafadzkan didalam shalat,sedangkan yang dimaksud dengan  an nuthqi disini adalah takbir. (Al Majmu  2/243 ).
             Imam Nawawi berkata “beberapa rekan kami berkata : “orang yang mengatakan  an nuthqi dengan melafadzkan niat dalam shalat, telah keliru,akan tetapi yang dikehendaki  oleh imam Syafe`I dengan An Nuthqi   adalah takbir.


  • PERKATAAN PARA ULAMA TENTANG MELAFADZKAN NIAT  DALAM  SHALAT

                Abu Abdillah  Muhammad  Ibnu Alqasim berkata “Niat itu termasuk perbuatan hati,mengerasakan lafadz niat termasuk bidah.selain itu juga menggangu konsentrasi orang lain”.

            As Syaikh Ala Aldin Al Atthar  berkata “ mengeraskan suara ketika ketika melafadzkan niat termasuk perbuatan yang bisa menggangu orang yang sedang shalat .hukumnya adalah haram selain itu juga perbuatan yang bidah yang buruk.jika hal itu dikerjakan karena pamer  (Riya )orang yang mengerjakanya mendapatkan keharaman dua kali  (keharaman melakukan bidah dan keharaman riya ).orang yang mengingkari pengerasan lafadz niat sebagai perbuatan yang termasuk sunnah adalah benar.sedangkan mereka yang meyakini perbuatan itu dalam adin adalah kufur .sedangkan jika tanpa meyakini nya ,maka termasuk maksiat,setiap orang wajib melarang perbuatan itu selagi dia mampu,sebab perbuatan semacam itu tidak pernah dinukil dari Rasullah e,tidak seorangpun dari shabat Nabi,maupun ulama-ulama yang istiqomah mengikuti ajaran Rasullah Saw . (Majmuah Al Rasail Alkubra 1/254-257 ).

            Ibnul Jauzi mengatakan “Diantara efek mengerasakan lafadz niat adalah mengganggu orang lain,diantara mereka ada yang membaca  “ushalli Shalataa kadzaa “ (aku niat mengerjakan Shalat ini atau itu  kemudian dia akan mengulangi niat itu karena mengira niatnya batal.padahal niat itu tidak batal meskipun tidak diucapkan “.
 (.Talbis Iblis :138 )

            Ibnu Abi Al`izz mengatakan “Tidak ada seorang ulamapun dari Imam Empat ,tidak As Syafe`I maupun yang lain mensyaratkan melafadkan niat ,menurut kesepakatan mereka ,niat tempatnya didalam hati.hanya saja ulama khalaf mewajibkan seorang  melafadzkan niatnya dalam shalat.dan pendapat ini digolongkan sebagai madzhab Syafe`I ,Imam an Nawawi mengatakan “hal itu tidak benar “.(Al Itiba “62  )

Ibnu Qoyyim berkata “Rasullah Saw  jika hendak mengerjakan shalat ,maka beliau mengucapkan Allahu Akbar,dan beliau tidak mengucapkan lafadz apapun sebelum itu dan tidak pernah melafadzkan niat sama sekali .beliau tidak mengucapkan “Usshali ....” semua itu adalah Bidah yang tidak ada sumbernya dari dari seorangpun  baik dengan sanad shahih ataupun Dhaif.bahkan tidak juga dinukil dari  sahabat Nabi,para Tabi`in dan Ulama yang empat “. (Zaadul Maad :1/201 ).


Kesimpulan


Dari keterangan diatas jelaslah sudah bahwa melafadzkan niat sebelum Shalat bukan termasuk tuntunan Rasullah Saw  ,maupun para Sahabat Rasullah Saw  ,dan tidak pula perkataan ulama  yang empat ( Abu Hanifah imam Malik, Syafe`I, Ahmad bin Hanbal ).namun hal tersebut bersumber dari pengikut Imam Syafe`I yang salah dalam memahami ucapan beliau yaitu An Nutqi yang makna sebenarnya yang dimaksud oleh Imam Syafe`I adalah Takbir  bukan melafadzkan niat,dan Walhasil bahwa melafadzkan niat  “Ushalii .....” merupakan perbuatan Bidah yang harus kita jauhi .
Memang segala sesuatu haruslah diawali dengan niat . Niat itu cukup di lakukan di dalam hati , karena niat adalah amalan hati bukan amalan lesan ( yang harus di ucapkan ) . Sedangkan melafalkan niat adalah tidak ada ketentuan baku mengenai hal itu artinya boleh berbahasa arab juga boleh berbahasa indonesia , yang penting kita tau betul apa yang akan kita kerjakan . Sedangkan orang yang melafalkan niat dengan mengucapkan " Usshalli " adalah salah dalam memahami dalil , sehingga salah pula dalam beramal .



Wallohu A`lam Bisshowab       

Rabu, 08 Juni 2011

AL - UMMAH






" Sesungguhnya ( umat tauhid ) ini adalah umat kamu , umat yang satu dan Aku adalah Rabb mu , maka sembahlah Aku " . ( QS : Al Anbiya' 92 )





Apa maksut dari ayat diatas , dan siapa saja yang termasuk bagian dari kriteria ayat diatas ?? Dan siapa saja yang tidak termasuk dari kriteria ayat diatas . Satu hal yang perlu menjadi renungan kita bersama di tengah tengah kebingungan orang hari ini . Allah Azza Wajalla di dalam QS : Al Anbiya' 92 tersebut hanya menyebutkan satu kelompok saja tidak yang lain , yang mana hanya satu kelompok itu sajalah yang nantinya akan mendapat satu keberuntungan dan semoga kita termasuk di dalamnya serta berusaha untuk tetap berada di dalamnya .


Said Hawa menguraikan makna dari ayat tersebut diatas dengan panjang lebar . Bahwa yang di sebut Umat adalah suatu ikatan besar di bawah satu bendera ( yaitu tauhid ) yang terdiri dari berbagai macam manusia , dengan bermacam macam ras , warna kulit dan bahasa . Mulai dari manusia pertama hingga manusia terakhir yang kesemuanya berjalan dalam satu tujuan yaitu menjadikan Allah Azza Wajalla sebagai satu satunya Dzat yang wajib untuk diibadahi dan di sembah .
Sedangkan satu kesatuan yang besar itu terbentuk melalui dua fase tahapan :
1. Sebelum di utusnya Rosulullah Muhammad Shalallahu alaihi wassalam
2. Setelah di utusnya Rosulullah Muhammad Shalallahu alaihi wassalam
Yang kesemuanya itu ( 2 tahapan itu ) beragama Islam . Kenapa Islam ?? Karena Islam secara bahasa adalah tunduk dan patuh serta berserah diri kepada satu aturan yaitu hanya aturan Allah Ta'ala saja .

Sebelum di utusnya Rosululah Muhammad Saw , para Utusan Alah tersebut ( mulai dari Nabi Nuh Alaihi Wassalam hingga Isa bin Maryam Alaihi wassalam ) di dalam menyampaikan risalahnya ( mengajak manusia untuk hanya beribadah kepada Allah saja ) masih berbentuk lokal ( para utusan tersebut di utus hanya untuk kaumnya masing masing ) . Akan tetapi setelah diutusnya Rosululah Muhammad Saw , maka dakwah tauhid beralih dari kerangka yang bersifat kesukuan atau lokal menjadi kemanusian atau menjadi bersifat universal sehinga jadilah seluruh manusia yang hidup di muka bumi di haruskan untuk mengkuti satu Rosul saja yakni Muhamad Saw saja dan tidak ada Rosul setelahnya serta tidak di terima untuk mengikuti Rosul rosul sebelumnya .

Allah Azza Wajalla berfirman dalam QS : Al Ahzab 40 yang artinya
" Muhammad itu sekali kali bukanlah bapak dari seorang laki laki di antara kamu , tetapi dia adalah Rosululah dan penutup Nabi nabi " .

Rosulullah sendiri telah bersabda :
" Seandainya Musa hidup tidak ada pilihan baginya , melainkan mengikuti ku  " . ( HR . Ahmad )
Pada hadits riwayat Imam Ahmad tersebut mengisyaratkan bahwa agama atau dien atau tata aturan yang ada di muka bumi itu hanya satu yaitu Dienulah ( mengikuti tata aturan Allah saja ) adapun yang membedakanya hanyalah tata cara pelaksanaan atau syareat tiap tiap Nabi yang masing masing ada sedikit perbedaan ( sebelum di utusnya Rosulullah ) . Akan tetapi setelah di utusnya Rosulullah Muhammad Saw , maka tata cara pelaksanaan dari seluruh aturan Allah untuk manusia yang hidup di muka bumi ini telah mengalami penyempurnaan . Yang mana seluruh manusia mau tidak mau harus tunduk dan patuh kepada syareat yang di bawa oleh Rosulullah Saw ( jika mereka mengaku hanya beribadah kepada Allah , jika tidak maka pengakuan mereka adalah dusta belaka ).

Secara akal sehat sesuatu yang telah sempurna tidak di butuhkan lagi penambahan maupun pengurangan sedikitpun . Jika sesuatu yang telah sempurna itu di lakukan penambahan atau pengurangan ( yang menurut akal dan nafsu sesuatu yang baik ) maka sesuatu yang telah sempurna itu malah menjadi tidak sempurna lagi . Jika ada sebuah gelas yang telah berisi air secara penuh , maka air yang ada di dalam gelas itu dapat di katakan sempurna penuhnya . Akan tetapi jika sebuah benda masuk di masukan ke dalam gelas tersebut ( berapapun beratnya ) maka air yang ada di dalam gelas itu pasti tumpah dan gelas tersebut tidak dapat lagi di katakan sempurna airnya .

Begitu pula dengan makna dari hadits di atas . Rosulullah Saw  bersabda seperti itu dengan nada marah ketika melihat salah satu sahabatnya yaitu Umar bin Kattab r.a membawa lembaran lembaran Taurat yang mana menurut angapan Umar bin Kattab r.a bahwa Taurat itu isinya kebaikan juga berasal dari Allah pula serta tidak mengapa jika hal itu juga di pakai dan di jalankan . Akan tetapi hal itu malah membuat Rosululah Saw marah . Karena beliau melihat hal itu ( yang di lakukan Umar bin Kattab r.a ) dapat mengurangi kesempurnaan Islam itu sendiri .
Pada hadits di atas juga memberikan satu pelajaran berharga bagi kita , jika kita mau merenungi lebih dalam . Bahwasanya akal dan nafsu kita di paksa untuk tunduk di bawah syareat atau dalil . Akan tetapi manakala sebaliknya justru syareat yang di paksa tunduk di bawah akal dan nafsu kita , maka yang terjadi adalah syareat di utak atik sesuai dengan nafsu dan akal atau menarik narik dalil sesuai akal dan nafsu kita untuk melegalkan satu perbuatannya yang menyimpang itu , sehingga kesempurnaan Islam tidak dapat di raihnya dan dirinya malah sedikit demi sedikit terseret kelembah kebinasaan . Hal itulah inti permasalahan Umat Islam hari ini , sehingga Umat Islam hari ini mengalami kehinaan yang mana hal itu di sadari atau tidak .

Allah Ta'ala juga telah berfirman dalam QS : Ali Imran 81 yang artinya :
" Dan ( ingatlah ) , ketika Alah mengambil perjanjian dari para Nabi , sungguh , apa saja yang Kami  berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rosul yang membenarkan apa yang ada padamu , niscaya kamu akan sungguh sungguh beriman kepadanya dan menolongnya . Allah berfirman , " Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian Ku terhadap yang demikian itu ? " Mereka menjawab , " Kami mengakui ". Allah berfirman " Kalau begitu saksikanlah ( hai para Nabi ) dan Aku menjadi saksi ( pula ) bersama kamu " .

Pada ayat tersebut memberikan satu pemandangan yang sangat dahsyat , satu moment penting yaitu ketika Allah Azza wajalla mengambil perjanjian kepada para Nabi . Yang mana para Nabi tersebut mau tidak mau harus menerima perjanjian tersebut . Apa isi perjanjian itu ? yaitu satu perjanjian untuk menerima dan melaksanakan serta meneruskan tongkat estafet kepemimpinan dakwah di muka bumi . Agar supaya dakwah Ilallah terus berjalan di muka bumi . Mengajak manusia untuk mengikuti tata aturan Allah saja , yang mana para Nabi tersebut tidak mempunyai kepentingan sedikitpun di dalamnya ( apakah manusia itu mengikuti seruan dakwahnya apa tidak , hal itu bukan masalah , yang penting hujjah telah di sampaikan dan di tegakkan atas mereka , yang mana akibatnya akan kembali pada dirinya sendiri ) . Di samping mengajak manusia untuk mengikuti tata aturan Allah saja juga menerangkan kepada manusia ,bahwa besok akan datang seorang Rosul yang akan menyempurnakan syareat Allah , menyempurnakan dan membenarkan  syareat syareat para Nabi terdahulu , sehingga hal itu terjadi atas mereka , maka mereka harus mengikuti syareat yang di bawa oleh Rosul yang terakhir itu dan harus menolongnya serta menolong ajaran yang di bawa oleh Rosul yang terakhir itu .

Pada QS : Ali Imaran 81 diatas juga memberikan satu pemandangan yang mencengangkan dan membuat hati terpana , yaitu satu parade kafilah yang sangat panjang yang di dalamnya terdiri dari orang orang yang meng Esakan Allah Azza Wajalla . Parade yang terdiri dari orang orang yang beribadah kepada RabbNya . Satu parade yang terdiri dari orang orang yang penuh ketundukan terhadap Syareat Allah yang mana seluruh alam beserta isinya juga telah tunduk patuh terhadap keMaha Kuasaan Allah Ta'ala dan tata aturan Allah Ta'ala . Itulah Islam . Dan parade kafilah yang sangat panjang itu di sebut dengan Ummah .


Islam Mendudukan Persoalan Secara Proporsional


Orang orang yang hidup sebelum di utusnya Nabi Musa Alaihi Wassalam dan mereka semua dengan suka rela tunduk patuh dengan kepada tata aturan yang di bawa oleh para Nabi sebelumnya ( Musa As ) , maka mereka membentuk satu Umat . Setelah di utusnya Nabi Musa As dengan membawa Taurat sebagai penyempurna syareat syareat sebelumnya sedangkan mereka semua tetap mau tunduk patuh dengan syareat yang di bawa oleh Nabi Musa , maka mereka juga membentuk satu Umat . Akan tetapi jika ada orang orang yang tidak mau tunduk patuh dengan syareat yang di bawa oleh Nabi Musa As , maka mereka yang tidak mau tunduk patuh terhadap syareat yang di bawa oeh Nabi Musa As itu bukan termasuk bagian dari Umat , walaupun mereka sebelumnya juga tuduk dan patuh dengan syareat yang di bawa sebelum Nabi Musa As .

Setelah di utusnya Nabi Isa Ibnu Maryam Alaihi Wassalam sebagai penyempurna syareat yang di bawa Nabi Musa As yaitu Injil , maka orang orang yang dulunya tunduk patuh dengan syareatnya Nabi Musa As juga harus mau tunduk patuh dengan syareat yang di bawa oleh Nabi Isa As yaitu Injil . Jika mereka mau tunduk patuh dengan syareatnya Nabi Isa As dan mereka mau menolong syareatnya Nabi Isa As , maka mereka di sebut dengan Umat . Akan tetapi jika ada orang orang yang tidak mau tunduk patuh dengan syareat yang di bawa oleh Nabi Isa As , maka orang orang yang tidak mau tunduk patuh dengan syareatnya Nabi Isa As dan tidak mau menolongnya bukan termasuk bagian dari Umat , walaupun mereka itu sebelumnya telah tunduk patuh dengan syareatnya Nabi Musa As ( meyakini dan menerima kebenaran kitab Taurat ) . Jika mereka tetap mengaku beriman , maka klaim klaim mereka itu adalah dusta .

Setelah di utusnya Rosululah Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam sebagai penutup para Nabi dan Rosul dan sebagai penyempurna syareat syareat sebelumnya , maka orang orang yang dulunya telah tunduk patuh dengan syareatnya Nabi Isa As dan Syareatnya Nabi Musa As di haruskan untuk tunduk patuh dengan syareatnya Nabi Muhammad Saw , mau menolong Nabi Muhammad dan mau menolong syareat yang di bawa oleh Nabi Muhammad Saw . Jika mereka mau menolong dan mau menerima syareatnya Nabi Muhammad Saw , mereka termasuk bagian dari Umat . Akan tetapi jika mereka malah tidak mau menerima syareatnya Nabi Muhammad Saw bahkan memeranginya , maka mereka yang tidak mau menolong dan yang memeranginya bukan termasuk bagian dari Umat , sedangkan pernyatan bahwa mereka termasuk ahli kitab adalah klaim klaim bohong .

Begitu pula dengan orangorang setelah di utusnya Rosulullah Muhammad Saw hinggakita hari ini dan besok  hari kiamat , maka seluruh bangsa manusia , dengan perbedaan ras , warna kulit dan bahasa , baik itu yang berada di Asia , Afrika Eropa Amerika maupun di Australia menjadi satu umat bagi seorang Rosul . Seluruh bangsa bangsa  itu wajib untuk mengikuti dan meneladani serta menerima seluruh syareat yang di bawa oleh Rosulullah Saw . Jika seluruh bangsa bangsa itu mau menerima seluruh syareatnya Nabi Muhammad Saw , maka seluruh umat manusia menjadi satu Umat . Akan tetapi jika tidak seluruhnya dan  hanya individu individu saja yang mau menerima , mengikuti dan meneladani Rosulullah Saw , maka hanya individu individu itu saja yang membentuk Umat , yaitu Umat Islam .

Jadi itulah sebabnya dan hal yang paling mendasar mengapa orang orang Yahudi dan Nasrani di sebut orang kafir walaupun mereka mengaku sama sama mendapatkan kitab suci dari Allah . Hal itu di karenakan orang orang Yahudi hanya mengakui kerasulan Nabi Musa saja dan berhenti sampai di situ saja , dan tidak mengakui Nabi Isa Ibnu Maryam sebagai Nabi dan Rosul bahkan NabiMuhammad Saw sebagai Nabi dan Rosul Allah Ta'ala . Sedangkan orang orang Nasrani hanya mengakui kenabian dan kerosulan Nabi Musa dan hanya berhenti pada kenabian Isa Ibnu Maryam saja serta tidak mengakui bahkan mendustakan dan memerangi kerasulan Muhammad Saw .
Akan tetapi orang orang Islam atau Umat Muhammad Saw berpandangan lain . Umat Islam mengakui dan membenarkan kerasulan Nabi Musa as dan Nabi Isa As , bahkan menempatkan Nabi Musa dan Nabi Isa As pada satu kedudukan yang tinggi yaitu pada deretan Rosul rosul Ulul Azmi yaitu Nabi Nuh As , Nabi Ibrahim Khalilulah ,Nabi Musa As , Nabi Isa As dan Rosulullah Muhammad Saw Khalilulah . Hanya saja syareat syareat sebelum di utusnya Nabi Muhammad Saw telah di sempurnakan oleh syareatnya Nabi Muhammad Saw , sehingga umat Islam hanya berkewajiban mengikuti syareatnya Nabi Muhammad Saw saja dan tidak syareat syareat sebelumnya .
Maka setiap pribadi pribadi Muslim adalah anggota umat Islam .  Orang orang yang tidak mantap dan tidak merasa bukan sebagai anggota umat adalah bukan Muslim . Sebab pribadi pribadi yang ingkar terhadap keanggotaan umat ini di pandang sebagai orang kafir . Oleh karena itulah Umat Islam adalah umat yang satu dan setiap individu individunya di pandang sebagai anggota umat . Dan dengan pengertian inilah ,  umat ini terikat dengan satu ikatan yang membentuk satu kesatuan yang utuh dan saling menguatkan satu dengan yang lainnya .



Dalil Yang Menunjukkan Orang orang Terdahulu Juga Beragama Islam


Penegasan melalui lisan Nuh Alaihiwassalam
"... Dan aku ( Nuh )di suruh supaya tergolong orang orang yang bersertah diri kepada Allah " . ( QS : Yunus 72 )

Penegasan melalui lisan Ibrahim Khalilullah dan Ismail Alaihiwassalam
" Ya Tuhan kami , jadikanlah kami berdua (Ibrahim dan Ismail As ) sebagai orang orang yang berserah diri kepada Mu .." . ( QS Al Baqarah 128 )

Ya'qub mewasiatkan Islam kepada putra putranya
" .. Hai anak anakku , sesungguhnya Alah telah memilih agama ( Islam ) untukmu , maka janganlah kemu matikecuali sedang tetap memeluk Islam " . ( QS : Al Baqarah 132 )

Penegasan melalui lisan Musa As kepada Bani Israil
" ... maka hendaknya hanya kepada Nya kamu bertawakal jika kamu benar benar orang orang yang berserah diri " . ( QS : Yunus 84 )

Ketika menceritakan Yusuf As Al Qur'an menyatakan
" ... Wafatkanlah aku sebagai seorang muslim dan golongkanlah aku bersama orang orang yang shalih " . ( QS : Yusuf 101 )

Kisah tentang kaum Hawariyun ( pembela dan pengikut setia Nabi Isa As )
" ... kami beriman kepada Allah dan kami bersaksi sesungguhnya kami adalah orang orang yangberserah diri " . ( QS : Ali Imran 52 )

Kisah mengenai Ratu Saba' Al Qur'an menegaskan
" ... dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah , Rabb semesta alam " . (QS : An Naml 44 )

Rosulullah menegaskan dengan sabdanya
" Nabi nabi itu bersaudara lain ibu , ibunya berbeda beda , tetapi agamanya satu " . ( HR . Bukhari , Muslim dan Abu Dawud )

Allah Azza Wajalla menegaskan lagi di dalam Al Qur'an
" Dia telah mensyareatkan agama kepadamu , sebagaimana yang di wasiatkan kepada Nuh , dan yang telah di wahyukan kepadamu dan Kami wasiatkan kepada Ibrahim Musa dan Isa yaitu ; tegakkanlah agama dan janganlah kamu bercerai berai di dalamnya .. " . ( QS : Asy Syuraa 13 )

Dari dalil dalil diatas dapat di simpulkan bahwa Orang orang Islam itu tidak hanya semenjak di utusnya Rosululah Saw sampai kita hari ini dan besok menjelang hari kiamat saja , akan tetapi jaquh sebelum di utusnya Nabi Muhammad Saw juga mereka semua dalam satu agama yaitu Islam , dan kesemuanya itu terkumpul dalam satu kafilah yang sangat panjang yaitu Umat Islam , yang terdiri dari orang orang yang berserah diri kepada ketentuan hukum perundang undangan Allah Azza Wajalla .


Kesatuan Ikatan Yang Membentuk Tubuh Umat Islam


Umat yang besar ini mempunyai satu ikatan kesatuan yang sama , yang mana dengan satu kesatuan ikatan itulah yang merangkai umat umat sebelum di utusnya Rosulullah Saw dengan orang orang setelah di utusnya Rosulullah Saw . Adapun kesatuan itu adalah :

1. Kesatuan Aqidah

Kesatuan dalam tauhid Laa ilaaha Ilallah . Kalimat tersebut merupakan sumber kekuatan kaum muslimin . Kapan saja manusia telah mengucapkannya , maka ia merupakan bagian dari umat ini , dan dia secara langsung telah terikat erat dengan hukum perundang undangan Allah Ta'ala yang diejawantahkan oleh para utusan Allah ( para Nabi ) . Begitu ia keluar dari jalur lingkaran tauhid ini , maka ia bukan lagi menjadi bagian dari umat ini .
Jika seseorang telah menyerahkan dirinya hanya kepada Allah saja ia menyembah melalui jalan para utusan Allah ( khusus untuk umat Islam hari ini yaitu hanya melalui jalur jalan Rosulullah Saw saja tidak yang lain ) maka ia berarti telah mewujudkan penghambaan dirinya hanya kepada Allah Ta'ala saja dan ia telah terbebas dari penghambaan sesama manusia .

2. Kesatuan Ibadah

Kaum muslimin meyakini bahwa tujuan utama seorang manusia di ciptakan dan hidup di muka bumi ini hanyalah untuk beribadah saja ( tidak ada yang lain selain itu ) . Seseorang yang telah menyerahkan dirinya hanya kepada Allah , maka hal itu haruslah di realisasikan dalam bentuk amal nyata ( tidak hanya pengakuan saja ) . Adapun amal nyata dari penyerahan dirinya itu adalah dengan ibadah hanya kepada Nya . Sedangkan bentuk nyata dari ibadah itu telah di contohkan dengan jelas oleh para utusan Allah dan telah baku dan tetap , yang mana hal itu manusia tidak berhak untuk menambah dan menguranginya dengan akal dan nafsunya .

Adapun tata cara dari pelaksanaan ibadah itu sendiri yang mengalami perbedaan di tiap tiap utusan .
Sebelum diutusnya Rosulullah Saw juga ada amal ibadah sholat , shoum dan Haji . Amal amal ibadah tersebut tentunya tidaklah sama bentuknya ( tata cara pelaksanaan ) dengan apa yang di lakukan oleh Umat Rosulullah Saw . Boleh jadi amal amal ibadah tersebut yang di lakukan oleh umat umat terdahulu itu jauh lebih berat atau lebih ringan . Akan tetapi setelah di utusnya Rosulullah Muhammad Saw , amal amal ibadah tersebut telah mengalami penyempurnaan dalam hal tata cara pelaksanaannya .

3. Kesatuan Sejarah

Misalnya saya seorang muslim . Jelas saya menpunyai hubungan historis dengan Adam As , Nuh As , Ibrahim As , Musa As , Isa As , Muhammad Saw , orang orang yang mengikuti mereka  dan bersama sama mereka semua berserah diri hanya kepada Allah Rabb Alam semesta .Saya menjadi kuat karena adanya keterikatan sejarah ini dan setiap muslim bersikap sama seperti ini dimanapun tempat dan waktunya . Keterikatan tersebut tidak pernah terjalin dengan dengan ikatan jahiliyah manapun dan lepas dari ikatan ikatan orang orang kafir manapun juga ( baik itu orang kafir sebelum di utusnya Rosulullah Saw , maupun orang orang kafir setelah di utusnya Rosulullah Saw )

Allah Azza Wajalla berfirman , yang artinya :
"Katakanlah ( hai orang orang yang beriman ) , kami beriman kepada Allah dan apa yang di turunkan kepada kami dan apa yang di turunkan kepada Ibrahim , Ismail , Iskhaq , Ya'qub dan anak anak cucunya , dan apa yang di berikan kepada Musa dan Isa serta apa yang di berikan kepada Nabi nabi dari Rabbnya . Kami tidak membedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada Nya . Maka jika mereka  beriman  kepada apa yang kamu telahberiman kepadanya , sungguh mereka telah mendapat petunjuk , dan jika mereka berpaling , sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan ( dengan kamu ) . Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka , Dialah Yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui " . QS : Al Baqarah 136-137 )

Rosulullah Saw bersabda :
" Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari kamu keangkuhan jahiliyah dan mengagung agungkan nenek moyang " . ( HR . Tirmidzi )
Jika seorang muslim yang memperkuat dirinya dengan ikatan selain Islam , maka ia telah mengeluarkan dirinya dari semangat Islam dan menjerumuskan dirinya kedalam lembah kehinaan yang sangat dalam setelah ia berkedudukan dengan benar .

4. Kesatuan Perasaan , Pandangan , Pemikiran dan Jalan

Jalan hidup kaum muslimin adalah jelas dan spesifik , yang mana jalan tersebut adalah jalan para Nabi dan Rosul .
Allah Ta'ala telah berfirman
"  Tunjukilah kami jalan yang lurus , jalan orang orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka . Bukan jalan jalan orang yang dimurkai dan bukan ( pula ) jalan mereka yang sesat " . ( QS : Al Fatehah 6-7 )
Rosulullah Muhammad Saw bersabda :
" Barang siapa sejengkal saja memisahkan diri dari jama'ah , berati ia telah melepaskan ikatan Islam dari tengkuknya , meskipun ia shalat dan syoum serta mengaku muslim " . ( HR . Abu Dawud , Ahmad , dan Tirmidzi )

Inilah manhaj hidup umat Islam yang unik . Mempunyai pemikiran tersendiri yang mana hal itu bersumber dari Kitabullah . Kaum muslimin memandang seluruh persoalan hidup yang di hadapinya atas dasar kaca mata bashirah Kitabullah .
Allah menyembuhkan setiap jiwa manusia yang sakit dengan konsep ini . Artinya jika seorang manusia di dalammemutuskan setiap persoalan hidupnya dengan mengembalikan kepada Kitabullah , maka jiwa manusia tersebut dalam keadaan sehat . Akan tetapi jika tidak , maka jiwa manusia itu dalam keadaan sakit ( walaupun kelihatannya badannya segar bugar ) . Semakin besar perhatian dirinya di dalam mengembalikan seluruh persoalan hidupnya atas Kitabullah , maka semakin besar pula pengaruh Islam pada dirinya itu dan juga semakin mengental pula perasaan dirinya atas mereka ( sesama seorang muslim ) .

5. Kesatuan Pedoman dan Undang undang

Sumber hukum dan perundang undangan umat Islam adalah Kitabullah ( Sukhuf para Nabi sebelum di utusnya Nabi Musa , Taurat , Injil dan Al Qur'an bagi Umat Islam setelah di utusnya Rosulullah Muhammad Saw hingga hari kiamat ) dan Sunah Nabi . Dua hukum itulah yang Allah syareatkan kepada seluruh manusia di muka bumi .Hal itu berlaku bagi umat umat sebelum di utusnya Rasululllah maupun setelah di utusnya Rosulullah Saw hingga hari kiamat .
Kaum muslimin di larang membuat undang undang sendiri yang bertentangan dengan syareat Allah SWT tersebut . Sehingga kaum muslimin mempunyai kesatuan undang undang yang sama  , baik itu masalah hukum pidana maupun perdata , masalah perekonomian , masalah internasional dan masalah masalah yang lainnya adalah satu .

6. Kesatuan Kepemimpinan

Artinya menjadikan para Nabi dan Rosul itu sebagai pemimpin tertinggi di dalam setiap pengambilan keputusan atas mereka yang di perselisihkan , yang mana hal itu sebagai perwujutan penegakan syareat Allah SWT di muka bumi . jika para utusan Allah itu wafat maka dengan segera kaum muslimin harus dengan segera mencari pengganti ( tentunya dengan satu kriteria yang sangat ketat ) agar tidak terjadi kekosongan kepemimpinan di tubuh umat Islam dan agar kaum muslimin tidak tercerai berai . Karena tabiat dasar seorang manusia adalah makhluk sosial , makhluk yang suka hidup berkelompok . Sedangkan setiap kelompok itu pastilah di butuhkan satu pemimpin . Agar kelompok tersebut berjalan dalam satu komando dan satu tujuan yang terarah .

Dari keenam kesatuan inilah , maka kaum muslimin adalah umat yang satu dan saling bersaudara .
Allah Azza Wajalla berfirman :
" Sesungguhnya orang orang mukmin itu bersaudara ...". ( QS : Al Hujurat 10 )
" Dan Orang orang yang beriman laki laki dan orang orang beriman perempuan sebagian mereka adalah menjai penolong bagi sebagian yang lainnya ...." . ( QS : At Taubah 71 )
Rosululllah Muhammad Saw bersabda :
" Perumpamaan orang orang beriman dalam kasih sayang , kecintaan , dan kekompakannya laksana satu tubuh . Apabila salah satu anggota tubuhmerasa sakit , maka seluruh tubuh merasakan sakitnya , seperti demam dan tidak dapat tidur " . ( HR . Bukhari dan Muslim )

Dan Akhirnya untuk mengakhiri pembahasan dari Al Ummah kita renungkan firman Allah yang artinya :
" Kamu tidak akan mendapatkan satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling berkasih sayang dengan orang orang yang menentang Allah dan RosulNya , sekalipun orang orang itu bapak bapak , anak anak atau saudara saudara ataupun keluarga keluarga mereka . Mereka itulah orangorang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Nya . Dan mereka dimasukkan kedalam Jannah yang mengalir di bawahnya sungai sungai , mereka kekal di dalamnya . Allah ridha terhadap mereka dan mereka merasa puas dengan ( limpahan rahmat Nya ) . Mereka itulah golongan Allah . Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung " . ( QS : Al Mujadilah 22 )

Pada Ayat QS : Al Mujadilah 22 tersebut menjelaskan dengan sangat gamblang bahwa itulah satu aqidah yang Allah inginkan atas manusia tanpa adanya satu kompromi sedikitpun dengan kekafiran di manapun tempat dan waktunya , yang mana hal itu harus di laksanakan dengan konsekwen jika mengaku beriman kepada Allah saja .
Karena masalah aqidah Nabi Nuh As harus berpisah dengan anaknya , Nabi Ibrahim Khalilullah harus pisah dengan bapaknya , Nabi Luth As harus pisah dengan Istrinya , Rosulullah harus pisah dengan paman pamannya ( Abu Jahal Abu Lahab bahkan Abu Thalib ) begitu pula dengan para sahabat Rosulullah juga seperti itu . Ayat tersebut terus berlaku dan akan seperti itu keadaannya bagi orang beriman hingga hari kiamat bagi siapa saja yang bergabung kedalam satu barisan Umat ini . Dan ayat QS : Al Mujadilah tersebut pasti akan terjadi atas orang orang yang tauhidnya benar dan lurus .


Itulah penjabaran dari Al Ummah yang panjang . semoga menjadi bahan renungan kita bersama , dengan begitu kita bisa mengetahui dimana posisi kita dan bagaimana menempatkan diri kita atas hal itu .






Wallahu 'alam Bisshowwab

Selasa, 31 Mei 2011

SUTRAH dalam SHALAT



 " Apabila salah seorang dari kalian melakukan shalat , maka shalatlah dengan sutrah , dan mendekatlah kepada sutrah itu . Dan jangan biarkan seorang pun lewat di depannya " ( HR . Ibnu Majah )



Ketika kita sedang shalat dimasjid , kadang kadang kita sering melihat orang sedang shalat menghadap dinding atau tembok . Lalau ada juga sebagian orang yang bertanya tanya , shalat kok menghadap tembok , seperti menyembah tembok saja . Dari sinilah lalu banyak orang yang enggan mendekatkan sesuatu di hadapannya . Dan kadang kadang kita juga menjumpai ada orang yang shalat membelakangi tembok belakang masjid , dan di depannya juga tidak ada pembatas sama sekali .Dan juga banyak orang yang lalu lalang di depan orang yang sedang shalat tanpa merasa bersalah .




Itulah fenomena di masyarakat tentang orang orang yang sedang melakukan shalat , yang mana hal itu sering tidak kita sadari . Mungkin sesuatu yang remeh dan seringnya tidak di perhatikan . Akan tetapi sesuatu yang kelihatannya remeh itu justru malah menjadi penting dan menjadi perhatian kita dengan serius . Marilah kita menimbang mana yang lebih mendekati kebenaran diantara keduanya . Agar kita di dalam mendudukkan satu permasalahan itu menggunakan saatu timbangan sesuai kaidah syara' ( syar'i ) . Maka dalam menimbang satu permasalahan itu haruslah berdasarkan tuntunan sunah Rosulullah Saw . Sedangkan hadits diatas kita jadikan bahan acuan .

Sedangkan hadits diatas di riwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab ash shalat , Bab ad Dunuw min as Sutrah ( mendekat kepada sutrah ) . Sedangkan Imam An Nasa'i menyebutkan hadits tersebut di dalam kitab al Qiblah , Bab al amru bi ad Dunuwi min ash Sutrah . Imam Ahmad bin Hambal juga meriwayatkan di dalam Musnadnya . Sedangkan Ibnu Majah menyebutkan di dalam kitab beliau ash Shalah , bab Indra' Mas Tatha'ta dengan teks yang sedikit berbeda :
" Dari Abu Sa'id r.a , ia berkata , Rosulullah Saw bersabda : Apabila salah seorang diantara kalian shalat hendaklah shalat menghadap sutrah , dan mendekat kepadanya , dan janganlah membiarkan seseorang lewat di depannya . Apabila seseorang lewat di depannya , hendaklah di tolak dengan sekuat tenaga , karena sesungguhnya ia adalah syetan  " .


Pengertian Sutrah


Secara bahasa kata sutrah berarti sesuatu yang di jadikan sebagai pembatas , apapun bentuk pembatas itu .
Secara istilah , sutrah bagi orang yang sedang melakukan shalat adalah apa saja yang terletak atau di letakkan di depannya , baik itu berupa dinding , tiang , tongkat ataupun yang lainnya ketika seseorang hendak mendirikan shalat , yang gunanya untuk mencegah orang lain lewat di depannya saat ia sedang melakukan shalat .
Jadi seseorang sebelum melakukan shalat menyengaja meletakkan suatu benda di hadapannya ( apapun bentuknya ) , yang mana hal itu bertujuan agar orang lain jangan lewat di belakang benda tersebut ( antara benda tersebut dengan dirinya ) . Dan jika tetap ada orang lain yang lewat di depannya ( antara dirinya dengan sutrah tersebut ) maka dirinya haruslah berusaha untuk menghalaunya . Akan tetapi jika seseorang itu lewat di luar sutrah itu , maka hal tersebut tidaklah mengapa .



Hukum Sutrah


Para Ulama' ahli fiqih berbeda bendapat tentang hukum sutrah dalam shalat ini . Ada diantara mereka yang menyatakan atau berfatwa , bahwa hal itu sebuah kewajiban yang harus di lakukan seseorang sebelum mendirikan shalatnya . Dan ada juga yang berfatwa bahwa hal itu hukumnya sunah . Sedangkan yang berpendapat bahwa sutrah itu hukumnya sunah adalah mayoritas para fuqoha' ( ahli fiqh ) , yang mana hal itu berdasarkan beberapa hadits berikut .

" Janganlah engkau shalat melainkan kearah sutrah ( di hadapanmu ada sutrah ) dan janganlah engkau biarkan seorangpun lewat di depanmu . Bila orang itu menolak , maka perangilah , karena bersamanya ada qarin ( setan ) " . ( HR . Ibnu Khuzaimah )

" Hendaklah kalian memasang sutrah di dalam shalat , meskipun hanya dengan sebuah anak panah ". ( HR . ath Thabrani , al Hakim , dan Ibnu Abi Syaibah )

Sedangkan perintah di dalam dua hadits diatas adalah dapat di fafhami sebagai sunah , karena ada hadits yang menunjukkan bahwa Rosulullah Saw pernah shalat tidak memakai sutrah .

" Dari Fadhil bin Abbas , ia berkata , Rosulullah Saw pernah mendatangi kami ketika kami sedang berada di padang pasir . Bersama beliau ada Abbas , lalu beliau shalat di tanah lapang dan di hadapan beliau tidak ada sutrah " . ( HR . Abu Dawud , An Nasa'i dan Ahmad ) . Akan tetapi oleh al Albani di nyatakan dho'if .



Yang Bisa Di jadikan Sutrah Dalam Shalat


Pada prinsipnya yang bisa di jadikan sutrah adalah benda benda yang cukup tinggi , diantaranya tiang masjid , tembok , pohon , tempat tidur , pelana , atau yang lainya .
Yazid bin Ubaid berkata , " Aku datang bersama Salamah bin Akhwa' r.a , lalu ia shalat pada tempat meletakkan mushaf . Maka aku tanyakan kepadanya , ' Wahai Abu Muslim , aku melihatmu memilih shalat pada tiang ini ,' Beliau menjawab : " Aku melihat Nabi Saw memilih shalat di padanya " . ( HR. Bukhari dan Muslim )

Pada hadits tersebut memberikan satu pelajaran yang berharga pada kita , bahwa pada prinsipnya semua amal ibadah ( apapun bentuknya ) haruslah di dasarkan pada dalil ( tidak cuma ikhlas saja ) . Sedangkan orang yang telah melakukan suatu amal perbuatan tentunya ia pasti telah mengetahui dalil dalilnya ( sehingga dia melakukan hal itu ) . Sehingga wajar dan memang seharusnya begitu jika Yazin bin Ubaid r.a ( melihat sesuatu yang baru dari suatu amal ) bertanya kepada Salamah bin Akhwa' ( yang melakukan amalan ) . Bukannya terbalik , seperti hari ini . Orang yang tidak melakukan amalan malah di tanya macem macem . Seharusnya orang yang telah berani melakukan satu amalan tentunya ia telah mengetahui dalil dalil yang membolehkan ia melakukan amalan tersebut . Karena Islam mendidik umatnya untuk melakukan satu amalan berdasarkan dalil atas kesadaran ( hanya ikut ikutan , berdasarkan persangkaannya atau mengikuti kebanyakan orang tanpa tau dalil syar'inya ) .
Itulah pelajaran yang dapat kita petik dari hadits tersebut , disamping menjelaskan akan sutrah .

" Rosulullah Saw bila keluar ketanah lapang untukmengerjakan shalai ied , beliau memerintahkan pelayannya untuk membawa tombak lalu di tancapkan di hadapan beliau . Kemudian beliau shalat di hadapannya , sementara manusia menjadi makmum dibelakang beliau . Dan beliau juga melakukan hal itu di dalam safarnya " . ( HR. Bukhari dan Muslim )



Bolehkah Sutrah Dengan Garis ??


Ada sebagian Ulama' yang berpandangan bahwa garis dapat di jadikan sebagai sutrah , hal itu berdasarkan hadits :
" Apabila salah seorang dari kalian shalat , hendaklah ia menjadikan sesuatu di hadapannya ( sebagai sutrah ) . Bila ia tidak mendapatkan sesuatu hendaklah ia menancapkan tongkat , Bila tidak ada  tongkat , hendaklah ia membuat sebuah garis dan tidak memudharatkannya apa yang lewat di hadapannya " . ( HR . Ahmad , Abu Dawud , dan Ibnu Hibban )

Al Imam al Albani berkata di dalam kitab tamamul Minnah , ' Hadits ini sanadnya dhaif dan tidak shahih ' . Karena itulah ash Shon'ani di dalam kitab Subulus Salam mengatakan ' Adapun sekedar garis di depan orang yang shalat tidaklah cukup dijadikan sebagai sutrah ' .

Sedangkan benda yang boleh dijadikan sutrah adalah benda apa saja yang memiliki ketinggian sekitar 2/3 hasta . Batas ukuran ini berdasarkan hadits Aisyah r.a berkata : " Nabi Saw pernah di tanya dalam perang Tabuk tentang ketinggian sutrah orang yang shalat . Maka beliau menjawab : " Semisal Mu'khiratur rahl " . ( HR . Muslim )

Rosulullah Shalallahu Alaihi Wassalam juga bersabda :
" Apabila salah seorang dari kalian meletakkan semisal mu'khiratur rahl di hadapannya , maka silahkan ia shalat dan jangan memperdulikan orang yang lewat dibelakang sutrah tersebut " . ( HR . Muslim )

Mu'khiratur rahl adalah kayu yang berada di bagian belakang pelana binatang tunggangan , yang di jadikan sebagai tempat sandaran si penunggang binatang tersebut . Para Ulama' menjelaskan tingginya mu'khiratur rahl itu sekitar 2/3 hasta ( satu hasta antara siku dengan ujung jari tengah ) . Itulah bedanya agama yang datangnya dari Allah dengan agama agama buatan manusia . Kalau dien yangberasal dari Allah , pasti telah ada keterangan keterangan secara terperinci dan telah baku yang menjelaskan kepada manusia bagaimana cara melaksanakannya .



Sutrah Bagi Makmum


Sunahnya sutrah adalah bagi orang yang shalat seorang diri dan imam shalat jama'ah . Adapun bagi makmum tidak ada kesunatan untuk meletakkan sutrah , sebab sutrah dalam shalat sudah menjadi tanggung jawab sang imam . Dalil yang menyelisihi hal ini adalah :
" Dari Abdullah bin Abbas r.a ia berkata : " Saya datang dengan mengendarai keledai dan saat itu saya sudah ihtilam ( baligh ) dan Rosulullah Saw sedang melaksanakan shalat di Mina . Maka saya melewati bagian depan shaf , kemudian saya turun , kemudian saya membiarkan keledai makan rumput dan saya masuk kedalam shaf dan tidak ada seorangpun yang mengingkari perbuatanku tersebut " . ( HR . Bukhari )



Mendekat ke Sutrah


Pada hadits di atas juga memerintahkan kepada kita berusaha untuk mendekat ke sutrah . sedangkan jarak antara orang yang sedang shalat dengan sutrah itu tidak boleh lebih dari 3 hasta , ( 1 hasta = ukuran dari ujung jari tengah hingga siku ) . Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu , ia berkata ; " Aku bertanya kepada Bilal r.a , di manakah Rosulullah  Saw melakukan shalat ketika masuk kedalam Ka'bah ? Bilal menjawab , " Beliau shalat antara beliau dengan tembok sejauh tiga hasta " . ( HR . Ahmad )
Oleh karena itu , jarak tiga hasta itu adalah jarak yg di butuhkan oleh orang yang sedang melakukan shalat untuk rukuk dan sujud .



Permasalahan


Apakah alas untuk sholat ( sajadah orang jawa bilang ) termasuk dari sutrah ?? Dan bagaimana cara lewat ketika ada seseorang yang sedang shalat ?? .

Tidak ada satu keterangan yang menjelaskan bahwa ketika sholat mengharuskan menggunakan alas sholat ( sajadah ) , akan tetapi yang ada adalah bahwa seluruh permukaan bumi ini bisa di jadikan tempat sholat dan hal itu satu kelebihan tersendiri buat Umat Muhammad Saw di banding umat umat sebelumnya . Artinya Kita boleh melakukan sholat di manapun tempatnya tanpa alas sholat atau memakai alas , kecuali 7 tempat yang di larang yaitu di tempat sampah , tempat penyembelihan hewan , di kuburan , di tengah jalan , di kamar mandi , di kandang unta dan diatas bangunan Ka'bah .Akan tetapi Tirmidzi mengomentari hadits tentang larangan 7 tempat yang di larang tersebut adalah sebuah hadits yang sanadnya lemah , begitu pula syaikh Al Albani dan 7 tempat itu perlu adanya penjabaran yang tersendiri . Sedangkan menurut hadits yang marfu' hanya 2 tempat saja yang di larang untuk sujud yaitu di kuburan dan di kamar mandi . Dan Syaikhul Islam mengomentari sanadnya bagus ( larangan di dua tempat tersebut ) . Wallahu 'alam .

Dan alas sholat tersebut bukanlah termasuk sutrah .

Di dalam hadits diatas menjelaskan tentang hikmah di balik menggunakan sutrah yaitu agar shalat seseorang tidak terputuskan oleh syetan . Sedangkan syetan yang di maksut hadits tersebut adalah orang yang lewat diantara orang yang sedang shalat dengan sutrah , sebagaimana hadits yang di riwayatkan oleh Ibnu Majah .
Dengan demikian , melewati antara orang yang sedang shalat dengan sutrah adalah haram dan pelakunya berdosa . Itu yang perlu di ketahui dan menjadi perhatian yang serius buat kita bersama .
Rosulullah Muhammad Saw bersabda :
" Kalau seandainya orang yang lewat di depan orang shalat itu mengetahui ( keburukan ) apa yang dia dapatkan , maka berdiri menanti empat puluh lebih baik baginya dari pada lewat di depanya " . ( HR . Bukhari dan Muslim )

Dari hadit tersebut bermakna adanya larangan lewat atau berjalan memotong di depan orang yang sedang shalat menggunakan sutrah . Sedangkan jika seseorang lewat di luar sutrah , maka ulama' sepakat tidak ada dosa baginya . Sedangkan jika seseorang yang sedang shalat tidak mengunakan sutrah , maka ia lewat di luar tempat yang di butuhkan untuk shalat ( sebagian ulama' berpendapat sejauh tiga hasta jaraknya ) . Hal itu di lakukan jika seseorang ingin lewat memotong dan jika hal itu memungkinkan untuk lewat . Akan tetapi jika hal itu tidak memungkinkan , maka diam menunggu itu lebih baik . Atau ketika ketika keadaan mendesak , maka hal yang perlu di lakukan adalah jangan sekali kali lewat memotong di depannya , akan tetapi berjalanlah lurus kebelakang ( di sampingnya ) yang mana hal itu lebih selamat bagi kita .

Itulah sekelumit tentang sutrah di dalam shalat , yang mana hal tersebut kurang menjadi permatian umat Islam hari ini . Semoga bermanfaat dan menjadi perhatian kita bersama . Amin


Wallahu 'alam Bisshowwab

Minggu, 22 Mei 2011

ANSHARULLAH

" Hai orang orang yang beriman , jika kamu menolong ( agama ) Allah , niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu " ( QS: Muhammad 7 )








Hari ini mungkin atau sering kita dengar sendiri begitu banyak orang yang bicara Islam . Banyak yang mengatakan Islam itu harus begini ..... tidak harus begitu . Sehingga banyak dari umat Islam yang bingung sendiri . Siapa yang berada di balik kebenaran itu dan siapa saja yang berada di balik kejahatan itu yang mana dengan hal tersebut malah semakin memperkeruh permasalahan .


Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhu berkata ( yang artinya kurang lebih ) :
" Janganlah kalian itu melihat satu kebenaran itu dari banyaknya pengikut , akan tetapi telitilah kebenaran itu sebagai suatu kebenaran , niscaya kamu akan melihat siapa saja yang berada di balik kebenaran itu " .
Dari perkataan Ali bin Abi Thalib r.a diatas ternyata benar dengan apa yang terjadi masyarakat hari . Dalam artian kesalahan yang di perbuat seseorang lantas hal itu dialamatkan kepada Islam dan menyudutkan Islam dan umat Islam .


Tuduhan tuduhan yang Di alamatkan Kepada Islam atau Kebenaran


Ada seseorang yang berbincang bincang . " Mas , lihat janda itu , dia telah di ceraikan suaminya " . Orang yang diajak bicara itu setengah kaget dan angkat bicara : " Padahal ibu tersebut itu ramah terhadap semua orang dan putranya juga rajin ke Masjid menjaga sholat lima waktunya ". Karena penasaran lantas orang kedua balik bertanya kepada orang pertama : " Kenapa bisa di ceraikan pak ...? Tanyanya dengan keheranan seakan tidak percaya dengan berita yg di dengarnya " . "  Nah mas ( orang pertama ) , suaminya itu sebenarnya da'i dan selalu keliing kemana mana untuk berdakwah , akan tetapi ia tidak pernah mengurus keluarganya . Ya jadilah begini . Makanya mas jadi orang itu biasa biasa saja , jangan suka menyalahkan ibadah orang lain . Yang netral netral saja . Jadinya ya seperti itu " . kesimpulan orang pertama .

Dari kasus tersebut dan berpedoman dengan perkatan Ali bin Abi Thalib r.a , dapat di tarik kesimpulan bahwa kesalahan yang di perbuat seseorang secara pribadi janganlah lantas menyalahkan dakwahnya secara keseluruhan .Bukankah yang salah hanyalah kesalahan dari personal da'i yang bersangkutan saja dan itupun beritanya belum tentu bisa di pastikan kebenarannya .
Dan itulah karakter dari masyarakat jahiliyah yaitu mencari cari kesalahan para penyeru kebenaran .Lantas dengan kesalahan satu saja yang di perbuat da'i tersebut mengalamatkan bahwa dakwah yang di bawanya itu salah dan menudutkan Islam .

Bukan hanya para da'i yang di perlakukan demikian oleh orang orang jahiliyah , bahkan para Nabi sebelumnya pun telah di perlakukan demikian oleh masyarakat jahiliyah .
" Jika mereka mendustakan kamu , maka sesungguhnya rasul rosul sebelum kamu pun telah di dustkan ( pula ) " . ( QS : Ali Imran 184 )

Tuduhan mereka terhadap Ibundanya Nabi Isa Alaihissalam bahwa Maryam telah berzina .
Tuduhan miring juga dialamatkan kepada Nabi Nuh Alaihissalam . Bahwa pengikut beliau terdiri dari rakyat jelata dan tidak berpendidikan sehinga orang orang jahiliyah menolak dakwah beliau bahkan mencela beliau .
" Kami tidak melihat kamu , melainkan ( sebagai ) seorang manusia ( biasa ) seperti kami , dan kami tidak melihat orang yang mengikuti kamu , melainkan orang orang yang hina dina diantara kami yang lekas percaya saja , dan kami tidak melihat kamu memiliki satu kelebihan apapun atas kami , bahkan kami yakin bahwa kamu orang orang yang dusta " . ( QS : Hud 27 )

Pada QS : Hud 27 tersebut memberikan satu gambaran secara jelas dan gamblang bahwa orang orang jahiliyah di dalam melihat satu kebenaran itu di lihat dari pengikut . Jika yang mengikuti kebenaran itu orangnya dari golongan ekonomi lemah , apalagi sang juru dakwah juga dari kalangan ekonomi lemah pula , maka mereka ( orang orang jahiliyah ) tidak mau menerima kebenaran tersebut ( padahal dalil dalil secara akal dan dalil Qur'ani telah di kemukakan dengan sangat jelas ) toh mereka tak mau menerima . Akan tetapi jika orang orang yang mengikuti kebenaran itu dari orang yang yang ekonominya kuat , berpendidikan tinggi , juga sang juru dakwahnya pun demikian , maka mereka baru mau menerima kebenaran .

Mereka ( orang jahiliyah ) mempunyai satu pemahaman ,jika orang yang yang berpendidikan tinggi dan tingkat ekonominya juga kuat , maka sudah barang tentu mereka tidak bisa di pengaruhi begitu saja ( di samping ekonominya juga sudah mapan di tambah mereka juga bisa berpikiran secara logis ). Dan  jika pengikut kebenaran itu dari orang orang yang ekonominya lemah serta pendidikannya pun rendah , maka sudah barang tentu mau untuk di pengaruhi , dan mau saja di iming imingi sesuatu yang tidak nampak kasat mata . Demikianlah orang orang jahiliyah melihat kebenaran . Dan hal itu akan senantiasa berulang ulang dari waktu ke waktu ( hanya orang orangnya saja berubah ubah , akan tetapi model dan caranya tetap sama ) .

Akan tetapi yang tidak pernah di sadari oleh orang orang jahiliyah adalah bahwa hidayah taufiq itu milik Allah semata , yang Allah berikan kepada siapa saja yang di kehendaki Nya . Sedangkan para juru dakwah hanyalah menyampaikan risalah saja ( tidak lebih ) adapun mereka itu mau menerimanya atau menolak , hal itu bukanlah masalah ( yang penting kebenaran sudah tersampaikan dan mereka sudah mendengar ) . Jika orang orang yang berpendidikan tinggi dan ekonomi kuat tidak mau menerima , maka hal itu di sebabkan karena ke sombongannya saja . Jika sudah demikian keadaanya , maka janganlah di salahkan jika sewaktu waktu adzab Allah itu datang kepada manusia manusia yang ingkar , apakah sekupnya pribadi ( orang yang ingkar tersebut di adzab tidak bisa menerima kebenaran dan orang tersebut tidak mampu melihat letak kesalahannya ) atau sekupnya umum ( entah itu bencana alam atau apa saja ) .
Dan hal itu sudah merupakan sunatullah yang terus berlaku dan tidak akan berubah .

Seseorang yang ingin kembali kepada kehidupan para salafus sholeh secara murni dan berusaha mengamalkan manhaj salaf tersebut mereka cibir . Dalam hal pakaian ( seorang muslimah misalnya ) mereka katakan bahwa hal itu tidak mengikuti mode hari ini yang berlaku . Mereka kritik habis habisan para muslimah tersebut , agar supaya para muslimah mau kembali pada kehidupan jahiliyah seperti mereka . Mau kembali memakai rok mini , mau kembali memmakai celana jins ketat , mau membuka jilbabnya , dls .
Jika seorang muslimah tersebut sedikit saja condong kepada mereka , maka selesailah pertentangan mereka atas muslimah tersebut ( karena sudah bagian dari mereka ) . Dan mereka akan bersikap manis .

Hal itu juga berlaku pada orang laki lakinya . Jika seorang muslim yang ingin mengikuti pakaian secara Islami atau berusaha sungguh sungguh untuk seIslami mungkin kehidupannya dengan  memanjangkan janggut , ( di sunahkan karena untuk menyelisihi orang orang yahudi yaitu memanjangkan janggut dan mencukur kumis ) , ada bekas hitam di jidatnya ( karena seringnya melakukan sujud di hadapan Rabb mereka ) dan memakai celana diatas mata kaki ( karena dalam Islam pakaian yang di bawah mata kaki adalah neraka , baik itu di waktu sholat maupun tidak . Bahkan Umar bin Khatttab r.a menjelang wafatnya beliau masih sempat memperingatkan seseorang yang berpakaian di bawah mata kakinya ) , akan tetapi orang orang jahiliyah menganggapnya agar berhati hati kepada orang tersebut dengan mengatakan " itu pakaian para teroris , oleh karena itu berhati hatilah ...." .

Seorang muslim yang ingin melaksanakan puncak amalan Islam yaitu Al Jihad fie Sabilillah pun tak lepas dari cibiran orang orang jahiliyah . Hanya karena satu kesalahan yang di buat individu orang yang ingin melaksanakan jihad ( caranya saja yang kurang tepat ) lantas mereka ( orang orang jahiliyah ) mengatakan bahwa jihad itu kejam , Islam itu rokhmatal lilalamin , tidak cocok di jadikan jalan untuk menegakkan Islam dan mendiskreditkan ibadah jihad itu sendiri .

Apakah mereka ( orang orang jahiliyah itu lupa atau tidak tau fakta ) banyak umat Islam yang di bantai oleh orang kafir dan sebagian kecil dari umat Islam yang sadar untuk sedikit melakukan perlawanan ( itupun segi kekuatan jauh tidak imbang ) mereka mengatakan ( orang jahiliyah )  kepada orang orang yang melakukan satu pembelaan kepada sesama saudaranya yang muslim di katakan teroris , sedangkan orang orang kafir yang banyak membantai umat Islam tidak di katakan teroris ?? . Oleh karena itu jujur dan adillah dalam melihat keadaan .
Jika jihad bukan satu ibadah yang harus di jalankan , lantas mau dikemanakan QS ; At Taubah , Qs : Al Anfal , QS : Muhammad , QS : Al Mujadillah , QS : Al Mumtahanah , dan masih banyak lagi ayat ayat jihad yang bertebaran di dalam Al Qur'an apalagi di dalam As Sunah . Apakah mau di hapus ayat ayat tersebut ?? .
Jika Islam itu rokhmatallilalamin dan jihad bukan sebagai jalan untuk menegakkan Islam ? Kenapa Rosulullah sendiri melakukan peperangan selama diangkat jadi Rosul sebanyak 27 kali . Apakah mereka tidak pernah membaca sirah Nabawiyah . Juga apakah mereka juga tidak pernah membaca sejarah para khulafa'ur rosidn ?? Abu Bakar r.a memerangi orang orang murtad , Umar bin Khattab r.a banyak mengirimkan pasukannya sehingga Islam itu tersebar hampir 1/3 dunia .

Oleh karena itu jihad merupakan satu ibadah yang harus di laksanakan oleh umat Islam , jihad juga ada tata caranya dan adab adabnya yang telah diatur secara baku ( tidak semaunya sendiri ) . Mengapus jihad sama halnya meragukan keotentikan Al Qur'an dan As Sunah , yang mana hal itu dapat mempengaruhi atau membatalkan 2 kalimat syahadat yang telah kita ikrarkan , karena kita sudah berani mengharamkan apa yang di halalkan oleh Allah . Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : " Barang siapa yang mengharamkan roti ( dhohirnya roti ) maka ia telah kafir " .
Jadi berhati hatilah dalam masalah ini . Janganlah ikut ikutan latah , karena hal itu akan kembali pada diri kita sendiri .

Para Ulama' yang dengan jujur menerangkan duduk perkara tentang jihad , seluk beluknya dan juga menerangkan bagaimana aqidah Islam yang murni itu , juga tidak lepas dari cibiran mereka ( orang jahiliyah ) dengan mengatakan bahwa hal itu merupakan cuci otak . Padahal di balik itu ada satu upaya agar umat ini tetap dalam keadaan bodoh dan tetap menjadi satu komoditi yang menguntungkan bagi segelintir orang . Jika umat ini sadar dari kebodohannya dan mau bangkit , maka mereka ( orang jahiliyah ) tidak bisa lagi meraup keuntungan dunia lagi .

Jika ada sebagian kecil dari umat ini giat melakukan Amar ma'ruf nahyi munkar , maka hal itu juga tidak lepas dari cibiran orang orang jahiliyah dengan mengatakan " Hal itu melanggar HAM " . Jika sudah tidak ada yang mau melakukan Amar ama'ruf nahyi munkar , maka hal itu menciptakan satu kondisi agar masyarakat tetap dalam kondisi maksiat , sehingga menantang Allah untuk menurunkan adzabNya ( entah apa bentuknya ) . Hal itu juga harus di sadari dan di renungkan .

Oleh karena itu , dari sekian banyak contoh kasus di atas hendaknya kita melihat satu permasalahan itu dengan satu neraca timbangan yang jelas yaitu Al Qur'an dan As Sunah . Dengan menggunakan neraca timbangan Al Qur'an dan As Sunah , maka kita akan melihat satu permasalahan dengan jelas . Meletakkan permasalahan secara proporsional . Kita akan tau siapa siapa yang berada di balik kebenaran dan siapa siapa yang berada di balik kesesatan .


Intanshurullaha yansurkum , wayustabbit aqdaamakum



Di tengah tengah kebingungan umat hari ini , yang mana al haq menjadi samar dan kabur , lalu al batil di poles sedemikian rupa agar tampak baik dan neraca di dalam melihat satu permasalahan sudah terbalik balik , maka Allah Azza Wajalla memanggil kepada orang orang beriman agar menolong agama Allah ( Islam ) .
Pada QS: Muhammad 7 diatas mungkin banyak orang yang bertanya tanya , kenapa Allah Ta'ala melalui ayat tersebut memanggil orang orang beriman untuk menolong agama Nya ( Islam ) ?? .
Maha Suci Allah yang telah menegakan langit tanpa tiang . Allah Ta'ala mampu membuat agama Nya ( Islam ) menang atas dien dien yang lain , walaupun seluruh manusia tidak ada yang mau menjawab seruan Allah dalam QS : Muhammad 7 diatas . Akan tetapi perintah tersebut akibatnya akan kembali pada manusianya sendiri jika mau menjawab seruan Allah dalam ayat tersebut.

Menolong agama Allah dengan apa dan bagaimana caranya ?? . Menolong agama Allah dengan kembali kepada Islam itu sendiri . Allah Azza Wajalla menyeru kepada orang orang beriman agar kepada hukum hukum Allah ( baik itu yang termaktub dalam Al Qur'an maupun dalam As Sunah ) . Seruan untuk kembali kepada aqidah yang lurus dan murni , sebagaimana aqidah yang di fahami oleh para generasi awal Islam ( para sahabat Rosul rodhiyallahuanhum ) . Seruan untuk kembali dari peribadatan sesama manusia kepada peribadatan hanya kepada Allah saja . Dan seruan untuk kembali memikirkan kehidupan akherat ( yang mana seluruh manusia akan berjalan kearah sana dan belum tentu bagaimana nasibnya kelak ) dan tidak terlena dengan kehidupan dunia ( yang mana seluruh manusia pasti akan meninggalkanya ) . Itulah maksut seruan Allah ( intansurullah ) .

Adapun akibat dari memenuhi seruan Allah tersebut adalah Allah akan menolongmu dan meneguhkanmu . Wujud dari pertolongan Allah dalam ayat tersebut adalah Allah pasti akan memberikan satu jalan keluar dari seluruh permasalahan yang di hadapi manusia di dunia ini . Disaat manusia banyak yang bingung di dalam mencari pemecahan masalah kehidupannya di dunia ini , maka orang orang beriman yang bersedia memenuhi panggilan Allah dalam ayat tersebut merasa tenang hatinya ( tidak gelisah dan resah ) , Allah akan memberikan firasat yang tajam dan mempunyai ketepatan dalam memecahkan setiap permasalahan yang di hadapi manusia .
Allah akan meneguhkan kedudukanmu artinya Allah akan menurunkan istiqamah kedalam hati orang orang beriman yang bersedia memenuhi panggilan Allah tersebut .
Di saat orang lain banyak yang bingung di dalam menapaki kehidupan ini , dia merasa tenang ( walaupun permasalahan demi permasalahan datang menghampirinya ) hal itu tercermin di wajahnya ( baik susah maupun senang wajahnya tidak ada perubahan ) .

Dan inilah kenikmatan yang Allah berikan kepada orang orang beriman yang mau memenuhi seruan Allah dalam QS : Muhammad 7 diatas di dunia ini . Itu semua baru posekot atau cicilannya saja . Adapun kontannya besok di akherat kelak . Itulah kenikmatan yang Allah berikan kepada orang orang yang beriman yang mau menolong agama Allah di dunia ini . Kenikmatan apalagi yang lebih besar dari kenikmatan atas pertolongan Allah dan keteguhan iman .
Itulah dienul Islam .

Jika seseorang membahas Islam , pastilah tidak lepas dari 3 pembahasan . Membahas seputar aqidah ( bagaimana aqidah yang lurus dan benar itu ) atau membahas seputar ibadah ( bagaimana cara beribadah kepada Allah yang pas dan benar itu ) atau membahas seputar akherat ( bagaimana nasib manusia dan mau kemana manusia setelah mati ) .
Oleh karena itu orang orang kafir hari ini ( baik itu dari golongan ahli kitabnya , orang musyriknya atau orang orang munafik ) berusaha dengan sungguh sungguh ( mengerahkan seluruh potensinya ) untuk mengaburkan 3 hal itu . Mengaburkan bagaimana aqidah yang lurus dan murni itu ? mengaburkan dari makna ibadah yang benar itu ? dan mengaburkan akan akherat .
Jika ada seseorang yang berusaha dengan jujur dan sungguh sungguh menjelas 3 hal itu , maka mereka ( orang orang jahiliyah ) menyebutnya sebagai program cuci otak !.
 Intanshurulah yanshurkum wayutsabitaqdamakum , mau apa tidak kita memenuhi seruan Allah tersebut .

Intanshurulah yanshurkum wayutsabbit aqdamakum hari ini bukanlah masalah yang remeh . Akan tetapi harus menjadi perhatian dan keseriusan kita , karena orang orang jahiliyah hari ini ada satu upaya ingin merampas nasib kita besok di akherat , akan tetapi banyak dari umat Islam sendiri yang tidak faham akan makar makar tersebut . Pada ayat tersebut Allah Azza Wajalla memanggil orang orang beriman untuk kembali memikirkan bagaimana nasibnya kelak di akherat dengan kembali pada diennya yaitu Islam . Pada ayat tersebut Allah memanggil dengan penuh kelembutan , yang mana Allah sedikitpun tidak mempunyai kepentingan sedikitpun di dalamnya , akan tetapi itu semua demi kepentingan manusianya sendiri .

Intanshurullah yanshurkum wayutsabit aqdamakum Seberapa besar kesungguhan kita di dalam mencari kebenaran Islam ( di dalam kita bertolabul ilmi ) , maka sebesar itu pulalah kita akan mendapatkannya ( walaupun kesungguhan yang telah kita lalui itu dalam jangka waktu yang lama ilmu yang kita dapat tidaklah langsung banyak , akan tetapi ilmu yang kita serap itu dari sedikit demi sedikit ) . Dan seberapa besar kesungguhan kita di dalam melaksanakan ilmu ilmu Islam yang telah kita serap itu di dalam keseharian kita , maka sebesar itu pula Allah akan menurunkan kefahaman akan Islam itu sendiri ( kefahaman akan hakekat dienul Islam ) .
Walaupun banyak dari ayat ayat Al Qur'an dan banyak dari hadits sering kita baca dan sering kita dengar , akan tetapi hal tersebut tidak pernah kita praktekkan dalam kehidupan kita , maka ayat ayat tersebut tidak akan memberikan manfaat apa apa , kita tidak pernah akan faham maksud dari ayat ayat yang sering kita baca dan kita dengar itu , dan hal itu hanyalah sebagai konsumsi otak belaka .
Akan tetapi mana kala kita mau bersungguh sungguh mengamalkan satu dua ayat yang telah kita baca dan sering kita dengar itu dalam kehidupan sehari hari kita dan kita tau akibat akibat yang akan kita terima dari melaksanakan ayat ayat itu ,lalu kita tetap melaksanakannya dan sabar , maka pada saat itulah Allah akan menurunkan kefahaman pada kita akan hakekat ayat tersebut . Begitu seterusnya .

Oleh karena itulah mengapa para sahabat Rosul rodhiyallahu 'anhum hanya mencukupkan 10 ayat saja di setiap kesempatan dan tidak menambahnya serta tidak banyak bertanya ( karena dengan memperbanyak ayat dan memperbanyak bertanya akan menambah beban mereka ) . Setelah mereka bisa merealisasikan 10 ayat tersebut di dalam kesehariannya barulah mereka menambah ayat ayat lagi ( untuk di hafalkan dan di laksanakan ) .Dan jika mereka ( para sahabat ) menjumpai satu permasalahan dan mereka tidak tau ilmunya , maka mereka diam ( mereka takut hal itu mendahului Allah dan RosulNya ) tidak banyak berkomentar , sehingga permasalahan itu di bawa di hadapan Rosulullah Saw . Dengan melakukan hal tersebut sudah barang tentu para sahabat rodhiyallahu 'anhum lebih faham akan dienul Islam .
Bandingkan dengan umat Islam hari ini , jauh panggang dari api .
Untuk tolabul ilmi saja , banyak yang tidak sempat ( dengan berbagai alasan ) bagaimana mau pandai . Sudah itu untuk mau melaksanakan syareat Islam saja banyak yang maju mundur - maju mundur , bagaimana ingin faham hakekat Islam . Dan di perparah dengan jika muncul permasalahan , sudah tidak tau ilmunya , tidak mau mengembalikan permasalahan itu kepada Allah dan Rosul Nya malah berkomentar sendiri sesuai akal dan nafsunya sendiri sendiri , maka sudah sewajarnya jika permasalahan demi permasalahan datang dan bertumpuk tumpuk mendera umat di negri ini .

Dan akhirnya Intanshurullah yanshurkum wayutsabit aqdamakum Allah Azza Wajalla tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum tersebut mau merubah dirinya sendiri . Mulailah dari diri kita sendiri untuk memenuhi seruan panggilan Allah dalam QS : Muhammad 7 , sebelum nafas sampai kerongkongan , mumpung masih dikaruniai kesehatan dan waktu luang dan tidak ada kata terlambat dalam beramal sholeh .........





Wallahu 'alam Bisshowwab